Abu Ju’la mengatakan: “Semua makhluk (khususnya manusia) berada di kekuasaan (tanggungan) Allah. Adapun, (makhluk) yang paling dicintainya adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya perihal tanggungan.”
Orang akan sulit bermanfaat dan dimanfaatkan orang lain selama ia masih fanatik buta dengan keyakinan sendiri. Dari sini jelas, bahwa toleransi juga termasuk bagian dari nilai ajaran agama Islam.

Dari hadis ini bisa disimpulkan, bahwa menafikan pemahaman toleransi sebagaimana dibahas sebelumnya sangat kontradiktif dengan ajaran dan norma agama Islam; bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang benar, dan semua Nabi yang menyeru dan mengajak agama-agama lain kepada agama Islam.
Islam memang agama yang eksklusif. Namun tetap menjunjung tinggi sikap toleransi kepada agama-agama lain. Bahkan, disebut dalam peradaban sejarah Islam, orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, Kristen, Khonghucu, Katolik, dan agama-agama yang lain dapat hidup damai berabad-abad di bawah naungan negara yang mengimplementasikan norma dan ajaran Islam.
Ada hadis lain terkait persaudaraan yang universal: “Irhamuu man fil ardhi, yarhamukhum man fii sama’.” (“Sayangilah semua penduduk bumi, maka penduduk langit akan menyayangi kalian.”)
