Apa yang terjadi di Bekasi, jelas berbeda dengan yang terjadi di Cirebon. Sebagai eks-kota kosmopolit yang memuat dinamika etnis (Arab, Cina, Pribumi), mudah untuk menemukan masjid dengan arsitektur sinkretis di Cirebon. Unsur Tionghoa, Arab, Hindu, dan bahkan Indie (kolonial) kadang saling bercampur. Di kota Cirebon, kombinasi antara Tionghoa, Arab, dan Hindu dapat ditemukan di masjid-masjid di area eks-pusat kesultanan, seperti misalnya Masjid Panjunan, Masjid Jagabayan, dan Mushola Pangeran Panjunan.
Di eks-wilayah gemeente di Cirebon, seperti Trusmi, Tegalgubug, dan Gegesik, masjid dengan arsitektur putih kotak, beratap limas susun, dan bermenara, mudah ditemukan. Entah dari mana imajinasi arsitektur ini berasal, apakah murni perkembangan imajinasi masyarakat pribumi pada awal abad ke-20? Atau merupakan kombinasi dari pengaruh gaya arsitektur Masjid Demak dan gaya arsitektur kolonial? Namun sepertinya asumsi yang kedua lebih meyakinkan sepintas.

Baru kemudian masjid-masjid kontemporer yang direncanakan sebagai ‘ikon’ kota yang umumnya dibangun di area pusat pemerintahan Cirebon modern, mulai menunjukkan arsitektur Timur Tengah dengan nuansa puritan. Di Cirebon, imajinasi Timur Tengah ini membeku dalam Masjid At-Taqwa, bersebelahan dengan rumah dinas bupati. Daerah sepersejarahan Cirebon, Indramayu, juga menunjukkan hal serupa melalui Islamic Center-nya.
Apa yang terjadi di Cirebon dan Indramayu menimbulkan tanda tanya, mengapa daerah dengan akar sejarah dan kebudayaan yang kuat justru mengadopsi arsitektur Timur Tengah untuk masjid ‘ikon’ kotanya? Bukankah ini ‘agak membelakangi’ akar sejarah suatu masyarakat tertentu? Atau, hal ini merupakan indikasi dari sesuatu yang sama sekali lain?
Kalau sempat memerhatikan prasasti yang menempel pada tembok masjid, biasanya akan ditemukan: masjid-masjid berbentuk kotak putih dan bermenara umumnya dibangun pada periode 1970-1980an. Periode ini merupakan periode mapannya masyarakat pasca-kemerdekaan yang ditandai oleh kemakmuran ekonomi, stabilitas sosial, dan lain-lain. Tetapi, imajinasi kolonial dan imajinasi kenusantaraan ala Wali Songo masih cukup kuat. Khususnya di area-area kampung.
Pemilik otoritas sosial, arsitek, dan masyarakat yang menginginkan masjid, masih terbayang oleh atap-limas, tiang penyangga berjumlah empat, lima atau bahkan sembilan, dan desain masjid kotak putih berserambi. Hal ini juga bisa dipahami karena kuatnya pengaruh tradisionalisme pesantren di desa-desa yang akarnya terhubung ke era Wali Songo.
Di saat yang sama, periode 1970-1980 juga merupakan periode ‘kebangkitan Islam dan ekonomi’. Di kota-kota besar, mulai diselenggarakan halaqoh dan liqa yang merupakan bibit awal bagi konservatisme Islam pasca tahun 2000.
