Secara simplistis, atribut Islam modernis, misalnya, dialamatkan pada Muhammadiyah, Persis, dan sebangsanya. Sedangkan, dengan cara yang sama, Islam tradisionalis disandangkan ke bahu NU atau nahdliyin, masyarakat muslim yang mengikuti paham dan praktik keagamaan ala NU. Ada beberapa latar kenapa NU distigma sebagai tradisionalis.
Pertama, dari latar paham dan pemikiran keagamaan. NU dicap tradisionalis karena secara ketat mengikuti mazhab empat, terutama Syafiiyah, di saat terjadi gelombang pasang purifikasi atau pembaruan pemikiran keagamaan dengan jargon kembali pada Qur’an dan Hadis. Turunan dari stigma ini cukup banyak. Misalnya, NU dianggap hanya bisa taqlid (buta) atau mengekor pendapat ulama terdahulu dan menutup pintu ijtihad. Dengan itu, dalam paham dan pemikiran keagamaan, kaum nahdliyin dianggap kaku, jumud, statis, dan anti terhadap pemikiran-pemikiran baru, anti terhadap kemodernan.

Kedua, model pendidikan keagamaan. NU dicap tradisionalis karena justru dianggap melanggengkan model pendidikan tradisional sebagai media dakwah dan pengajaran Islam. Contoh kasarnya adalah pondok pesantren. Di dalam pondok pesantren itu pun yang utama diajarkan adalah turats atau kitab-kitab klasik karya ulama terdahulu. Ini berbeda dengan kecenderungan kelompok-kelompok Islam modernis yang getol mendirikan sekolah-sekolah modern dengan mengadopsi sistem pembelajaran dari Barat, seperti yang dilakukan Muhammadiyah atau Persis.
Ketiga, praktik dan amalan keagamaan. NU dicap tradisionalis karena praktik dan amalan keagamaannya dianggap mengadoptasi tradisi lokal. Meskipun, apa yang dilakukan NU ini berdasarkah kaidah mengambil yang lama (tradisi) yang baik, namun dari kaca mata modernis dianggap sinkretis dengan konsekuensi bidah dan syirik.
Keempat, basis massa dan dukungan. NU dicap tradisionalis karena mayoritas anggota dan pengikutnya adalah masyarakat perdesaan dan basisnya adalah orang-orang pesantren yang juga berpusar di perdesaan. Karena itu, hampir di sepanjang abad pertamanya, warga nahdliyin distigma dengan sebutan kaum sarungan, yang dimaknai sebagai simbol ketertinggalan, kemunduran, tidak intelek, kolot, dan anti kemodernan.
Seluruh latar dari kategorisasi dikotomis itu seakan terangkum sepenuhnya dalam pernyataan antropolog James L Peacock ketika menyimpulkan NU sebagai Islam tradisionalis seperti ini: “Garuklah kulit orang Jawa Islam, maka Anda akan mendapati Hinduisme…” Atau dalam sebuah pernyataan yang pernah ditulis oleh Mitsuo Nakamura, yang kemudian ia menyesalinya, disimpulkan bahwa NU itu secara intlektual tidak canggih, yang secara politik oportunis, dan yang secara kultural sinkretik.
Stigma Islam tradisionalis yang disandangkan kepada NU itu bukanlah atribusi yang tanpa konsekuensi. Hampir sepanjang abad pertamanya, sangat tidak mudah bagi NU untuk mengembangkan diri. Sebab, keberagamaan NU dianggap tidak cocok dengan zaman modern. Karena itu keberadaannya banyak ditentang.
