Tentangan pertama tentu datang dari para pengusung modernisme Islam, pembaruan Islam, atau purifikasi agama, misalnya, yang menganggap keberagamaan orang-orang NU atau warga nahdliyin belum sempurna dan karena itu harus “disempurnakan” atau dikembalikan pada kemurniannya. Kepada warga nahdliyin inilah seringkali tudingan bidah, syirik, dan sesat dialamatkan.
Tentangan lain datang dari para agen pembangunan ala Barat alias modernisasi. Terutama di masa Orde Baru yang berkuasa lebih dari tiga dekade, meskipun memiliki basis massa yang sangat besar, NU tergolong sebagai komunitas yang hanya dipandang sebelah mata, terpinggirkan, dan tidak menjadi bagian penting dari gerbong modernisasi atau program pembangunan yang dicanangkan Orde Baru. Bahkan, ada masanya NU justru dianggap sebagai batu sandungan bagi proses modernisasi di masa Orde Baru. Karena itu, misalnya, selama masa Orde Baru, NU banyak menemui hambatan untuk mengembangkan diri, seperti di bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Abad Moderatisme
NU benar-benar menemukan momentum kebangkitannya setelah Orde Baru runtuh, pasca-reformasi 1998, ketika spektrum dunia juga berubah, ketika modernisme telah dianggap lampau, ketika diskursus post-modernisme atau post-kolonialisme juga mulai lampau, ketika disrupsi mengguncang dunia ke arah yang tak pasti.
Dunia kini seakan baru sadar, bahwa yang paling adaptif, elastis, dan tahan terhadap guncangan disrupsi global ternyata adalah paham dan praktik keagamaan yang selama ini dijalankan dan dicontohkan oleh NU, oleh warga nahdliyin. Di saat yang sama, kebangkitan agama, atau lebih pas disebut kelompok-kelompok berbasis agama, yang dulu disebut sebagai modernis, pembaharu, puritan, murni, kini justru dianggap sebagai bagian dari ancaman global karena di belakangnya membonceng apa yang disebut radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Atau, paling tidak mereka inilah yang paling mudah diintrusi oleh radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.
Dalam dekade-dekade terakhir, maraknya bom-bom bunuh diri di berbagai negara yang mengatasnamakan agama lalu kekacauan, konflik, dan perang di negara-negara muslim Timur Tengah yang tak berkesudahan, misalnya, menjadi bukti bahwa paham keagamaan mereka menjadi bagian dari ancaman global. Di tengah disrupsi global itu, dunia tiba-tiba menolah ke NU, memandang warga nahdliyin dengan sebutan baru: moderatis. Nyaris tak ada lagi sebutan (resmi) tradisionalis dialamatkan ke NU. Kalaupun masih ada, mungkin dengan agak sedikit malu buru-buru menambahkan frase: yang moderatis.
Ya, di tengah disrupsi global saat ini, NU menjadi satu-satunya organisasi massa berbasis keagamaan terbesar di dunia, yang paham dan praktik keagamaannya tetap berakar kuat pada tradisi namun sekaligus paling terbuka dan moderat dalam menerima perbedaan, keragaman, dan perubahan. Dan itu bukan sikap yang baru dari NU. Sebab, dari awal berdirinya, NU sudah berpegang pada tiga prinsip dasar, yaitu tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) dalam beragama.
