Ilalang di padang rumput sudah tidak sejajar lagi dengan ubun-ubunnya. Artinya, dia harus bersekolah. Walaupun enggan, dia luluh dibujuk sang ibu.
Di depan gerbang Madrasah dengan pakaian lengkap dan kopiah, napasnya mulai melambat saat menoleh teman-temannya. Sejam berlalu di sekolah, Cekka menghela napas. Bocah itu cukup pendiam dan takut menegur teman-temannya, meskipun tidak ada yang mencemoohnya. Paranoid masa kecil membuatnya sulit untuk mulai mengenal orang lain.

Suara riuh dari semua penjuru kelas, bersambut dengan bunyi nyaring satu ketukan lempengan besi, tumpah ke halaman dan kantin. Tertawa saling bercanda, mereka semarak di hari pertama sekolah.
Pintu kelas terbuka lebar, tetapi badannya masih terdiam di sarangnya mengumpulkan tenaga untuk keluar. Berjalan perlahan, berdiri di garis batas pintu, kakinya membeku kaku. Melangkah pasti keluar pintu, dia tertahan sejenak. Kini dia merasa punggungnya kaku seakan ada yang mencegatnya dari belakang.
Berbalik badan, seorang gadis kecil memegang pundaknya dan mendorongnya. Gadis itu menunduk, memungut bunga yang terjatuh. Wajahnya tergugup, tidak sadar menyenggol pot bunga. Berjalan mundur, sikutnya malah membentur botol minum, membasahi baju seorang anak lelaki. Anak itu teriak keras sambil menujuk-nunjuk dia dengan kejam.
Semua mata menajam siap menyudutkannya. Dadanya sesak di tengah kerumunan yang bersiap menyerangnnya. Seorang anak kembali berteriak, teriakan mengumpat ke arahnya, anak itu bersorak menepuk-nepuk tangannya.
“ Abdullah Picek…”
“Picekk… Picekkk… Picekk.”
Sorak mereka menjadi-jadi, beberapa anak menoleh dari balik jendela kaca, sebagian mengintip dari balik pintu, sebagian keluar berbondong-bondong. Beramai-ramai keluar kelas untuk melihatnya.
Bersiap merengek, dia sadar bahwa tidak ada ibu di dekatnya. Udara sesak karena anak-anak berlarian dari seluruh penjuru sudut sekolah untuk menghampirinya. Keadaan menjadi serial mimpi buruk yang sering terjadi di pinggir sungai; anak-anak siap menjailinya.
Merasa tertekan hebat, suasana hening, semua penonton memperhatikannya, menanti pertunjukan selanjutnya. Air matanya tumpah. Penonton semakin berjingkrak-jingkrak menyaksikannya. Jongkok menutupi wajahnya yang basah, dia berdiri masuk ke dalam kelas, mengempas pintu dan menguncinya. Dia mengurung dirinya di dalam kelas yang sunyi.
Penonton makin riuh menggedor-gedor untuk melihat aktor itu, berjinjit, berjejer dari ujung sampai ke daun pintu, mereka mengintip hiburannya siang itu.
Membuka mata, udara dingin kelas menyumpal napasnya. Bebek, ayam, gajah, anjing, dan seekor kambing yang menempel di dinding mulai ikut riuh. Matanya tertegun melihat seisi ruangan, semua binatang berjingkak-jingkak, mulai mengembik, menggonggong, dan mengeong.
