Gedoran pintu makin cepat, nyaring diiringi suara jendela kaca-kaca yang diketuk oleh anak-anak. Semua berputar-putar mengelilingi matanya.
“Emakk… Emakkk… Emakkk! Emak di mana?!!

Ibunya terkejut dan Cekka bangkit mendadak. Pinggulnya otomatis duduk kaku bersila, tersengal-sengal, bajunya basah oleh bulir deras keringat yang mengucur dari punggungnya. Air matanya menggenangi sarung ibunya. Ibunya langsung mendekapnya erat. Cekka menangis sejadi-jadinya sore itu.
“Emak! Emak Ceka dak mau sekolah, ndak mau. Dak… Dak….”
Di lantai dipan rumah, ibunya mengusap kepala Cekka. Tangannya menimang-nimang tubuh anak kesayangannya sambil sesekali bershalawat dengan merdunya. Saat adzan maghrib mulai berbunyi, kepala cekka makin dalam bersandar di dada ibunya. Awan-awan secara berjamaah mulai beriringan menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat.
“Cekka, ayo ke masjid…. ayokk kito mangaji.”
Bocah-bocah itu beriringan, berjalan mendekati suara adzan. Mampir di rumah Cekka, mereka bersiap ke masjid bersama-sama.
Ibunya tersenyum ke arah Cekka. “Jangan nangis lagi, lihat ke kiblat, khusyuk dan rajin berdoalah nak,” tutur kata ibunya dengan lembut.
Mengancingkan baju Cekka dan mengikat sarung bapaknya ke pinggang kecilnya, ibunya mengusap tangannya. “Habis mangaji, kan gelap. Pulang nanti pegang tangan teman-teman yo…nak,” seorang anak perempuan sigap meraih tangan kecilnya.
Mata mungilnya tenang seolah mengerti maksud ibunya. Matanya yang polos bercahaya tersiram sorot lampu senja, seolah Tuhan sedang menampakkan keajaiban di penglihatannya.
Ibunya menoleh-noleh matahari yang tenggelam. Ia yakin Cekka akan menjadi pria dewasa yang sangat tampan dengan mata yang sangat berbeda dari teman sebayanya. Bersinar di bagian retina, dan terkadang menampilkan rona jingga seperti laut timur yang terpapar cahaya senja. Matanya seorang bangsawan muda.
Jambi, 18 maret 2019
