Acabis, Tradisi yang Mengabadi

Ini adalah sedikit cuplikan dari potret besar perubahan keberagamaan generasi muda. Apabila gambaran ini kemudian dipakai sebagai bingkai sudut pandang dalam melihat realitas, maka tradisi acabis di tanah Madura yang masih terus bertahan menemukan keunikannya.

Keunikan yang dimaksud di sini adalah dampak kongkret fenomena spiritual marketplace sebagaimana yang digambarkan oleh pakar sosiologi agama berkebangsaan Amerika tersebut tidaklah benar seutuhnya. Meskipun, kehadiran media sosial dengan segala fasilitas yang diberikan (termasuk menjadi media distribusi dan reproduksi agama), ternyata tidak mampu mengikis apalagi menghapus relasi keberagamaan model konvensional.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hubungan kiai dengan santri atau kiai dengan masyarakat terus mengabadi dalam ruang interaksi sosial sehari-hari. Meskipun, masyarakat sudah tidak memposisikan kiai sebagai sosok manusia serba bisa sebagaimana zaman dahulu, namun rasa hormat dan patuh pada kiai masih terus dipelihara. Bentuk penghormatan dan kepatuhan pada kiai, salah satunya bisa diukur dari tradisi acabis yang tiada ujung pangkalnya. Dugaan penulis, falsafah hidup masyarakat Madura yang berbunyi “Bhuppa’ Bhabbhu Ghuru rato” turut andil besar dalam memelihara tradisi acabis ini.

Falsafah hidup ini kemudian berubah menjadi semacam norma sosial. Sebagaimana karakter dasarnya, norma sosial adalah pedoman umum masyarakat dalam bertingkah laku. Ia menjelma sebagai pengatur yang membolehkan dan melarang masyarakat melakukan apa. Dalam konteks tradisi acabis ini, kiai adalah salah satu dari tiga sendi kehidupan yang harus dipatuhi dan ditaati. Tiga sendi kehidupan yang dimaksud adalah bapak-ibu (orang tua), guru (kiai-ulama), dan pemerintah (umara). Barang kali inilah yang menyebabkan tidak perlunya rasa khawatir berlebihan atas adanya perubahan keberagamaan generasi muda akan menyebabkan pudarnya bahkan hilangnya tradisi acabis di tanah Madura.

Tinggalkan Balasan