Di zaman itu, prosesnya seperti itu ya. Nah, kalau sekarang sudah di era digital, apakah kira-kira bisa melahirkan proses kreatif sastra dengan kualitas yang sama atau bagaimana?
Soal kualitas saya kira kembali kepada kreatornya sendiri. Sekarang memang ada perubahan ya. Perubahan zaman. Perubahan teknologi. Dan juga perubahan infrastruktur. Dulu infrastruktur sastra itu kan ada di koran ya, ada redaktur. Sehingga, orang yang mau menulis karya sastra harus melewati sebuah seleksi yang dilakukan oleh editor atau redaktur. Jadi ada proses seperti itu. Sementara, sekarang lebih bebas, siapa pun bisa menampilkan sendiri. Tapi itu menurut saya bukan sesuatu yang bisa menjadikan suatu karya tidak berkualitas. Bisa saja dengan proses yang sekarang juga berkualitas. Karena yang terjadi adalah medianya yang berubah. Tapi proses kreatifnya tetap ada di diri masing-masing (penulis). Kalau memang serius, sekarang bisa lebih hebat lagi. Karena informasi lebih terbuka sekarang. Jadi yang berubah sekarang ini medianya. Nah, perubahan media seperti ini sebenarnya juga sudah terjadi dari dulu. Dari kertas, dari mesin tik ke mesin cepat, lalu komputer. Perubahan-perubahan yang masing-masing punya ciri khasnya sendiri.

Kalau diamati, perkembangan sastra kita dari waktu ke waktu seperti apa?
Sekarang, kalau saya melihat perkembangan sastra, secara publikasi sangat luas. Sangat meriah, masif. Lalu juga peminat sastra sekarang juga terdeteksi. Kalau dulu mungkin hanya para penulis sastra atau dari yang belajar di jurusan sastra. Sekarang ini bahkan ada komunitas-komunitas ibu-ibu yang menyukai sastra, kemudian mereka berproses dan ada yang menerbitkan buku. Ada komunitas macam-macam sekarang ini. Jadi sekarang lebih luas dari sisi pemasyarakatannya. Audiensnya. Tapi kalau kembali ke masalah kualitas ya tergantung pada diri-diri masing-masing.
Bagaimana melihat generasi baru pelaku sastra, terutama dari lingkungan pesantren, dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya?
Ini memang butuh waktu. Yang menentukan adalah waktu. Kita tunggu saja. Kalau saya melihat, misalnya di kalangan pesantren, terutama pesantren-pesantren di Jawa Timur atau Madura, banyak sekali penulis-penulisnya. Lalu di Jawa Barat, di pesantren-pesantren juga mempunyai kelompok-kelompok literasi. Cuma itu tadi, ini masih membutuhkan waktu. Karena keriuhan-keriuhan dalam komunitas, misalnya, hanya terjadi ketika mereka di pesantren atau di kampus. Ketika keluar dari pesantren atau kampus, karena bekerja, mereka berhenti. Kecuali yang memang serius. Ini juga seleksi alam yang menentukan.
Bagaimana melihat pendidikan sastra di lingkungan pendidikan kita? Belum lama ini, misalnya, sampai ada usulan sastra masuk kurikulum, misalnya? Apakah selama ini sistem pendidikan kita belum mendukung pengembangan sastra?
Ya betul, saya setuju itu. Pendidikan sastra pernah bagus di awal-awal kemerdekaan. Karena mungkin waktu itu, selain buku tersedia, ada semacam kewajiban setiap siswa membaca buku sastra. Misalnya di tingkat SMP dan SMA ada buku sastra yang wajib dibaca. Dan bukan hanya yang bahasa Indonesia, tapi juga bahasa daerah. Nah, ke sini ke sini, terutama setelah Orde Baru, pendidikan kita tidak bisa memisahkan antara tata bahasa dengan sastra. Itu ketika ada pelajaran Bahasa Indonesia. Nah setelah itu tergantung gurunya. Kalau gurunya tidak punya minat pada sastra, dia hanya akan memberikan pelajaran pada Bahasa Indonesia saja. Sementara sastranya ditinggalkan. Dan itu yang terjadi sampai sekarang. Itulah problem-problem kita. Dan sebenarnya ini sudah diusulkan sejak lama untuk memisahkan pendidikan bahasa menjadi dua, menjadi linguistik sama sastra. Tapi memang ada juga gurunya yang minat sama sastra, ya beruntunglah murid-muridnya. Itu problem tersendirilah dalam suatu kebijakan. Karena dengan, misalnya tidak diwajibkan membaca (sastra), akhirnya yang dikuasai hanya teori-teorinya saja yang ada di ujian. Jadi yang dikuasai hanya jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan, misalnya nama pengarang atau sinopsis dari sebuah buku sastra.
Bagaimana dampaknya jika pendidikan sastra tidak jalan bagi lahirnya generasi baru?
Mungkin dampaknya bagi apresiatornya. Artinya, kalau seseorang memang punya minat sastra yang kuat, dengan kondisi pendidikan seperti ini, dia akan jalan sendiri, belajar sendiri. Tapi untuk murid-murid yang lain, yang mungkin minatnya tidak terlalu tinggi terhadap sastra, ke depannya mungkin mereka tidak akan menjadi apresiator yang baik. Sementara dunia sastra juga membutuhkan dua-duanya, kreator dan apresiator. Sama pembacanya dan penikmatnya.
Bagaimana dengan pendapat yang menyebutkan bahwa generasi sekarang ini kurang mendapat sentuhan sastra?
Ya, tapi sekarang juga, di luar masalah pendidikan tadi karena memang itu soal kebijakan pemerintah, dunia medsos juga membuat sastra lebih dikenal secara umum. Juga peminat-peminat sastra bertambah. Walau pun ini belum otomatis menjadi peminat atau pembeli buku. Misalnya di IG, yang kutipan-kutipan sastra dari para sastrawan juga banyak ditampilkan oleh mereka, anak-anak muda kita. Kemudian membacakan sendiri karya-karya sastranya lalu ditampilkan di reels IG. Itu banyak sekali. Dari sisi ini menurut saya sudah lumayan sekarang. Artinya, ada bagian-bagian puisi yang sangat menarik bagi mereka kemudian ditampilkan sebagau quote dengan sebuah desain yang menarik.
Bagaimana dengan perkembangan sastra di lingkungan pesantren?
Dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, sekarang lebih maju. Misalnya di Tasikmalaya ini ya, seperti yang saya ceritakan tadi, ada seorang dosen namanya Asep Tamam, sudah banyak menerbitkan buku-buku dari kalangan santri. Cuma masalahnya, apakah setelah keluar dari pesantren mereka akan terus menulis atau tidak. Itu yang sering jadi masalah. Di sini juga ada santri yang menulis novel-novel pop yang bukunya sudah diterbitkan, termasuk oleh kelompok Mizan.
Jadi kaderisasi sastra pesantren berjalan ya?
