Ya, ada beberapa penulis lain, misalnya, Pak Husnur di Tasik, sekarang sudah jadi kiai dan sudah punya penerbitan sendiri. Dan belakangan banyak menerbitkan buku biografi dari kiai-kiai di Tasikmalaya. Dan ada beberapa biografi kiai yang sudah jadi novel. Misalnya Kiai Zainal Mustafa, Kiai Wahab Muchsin yang dari Sumana. Terus Kiai Tohir Affandi dari Sukmajaya itu sudah jadi novel, bahkan sampai empat jilid. Jadi penulis-penulis pesantren cukup produktif. Mungkin juga ada kerja sama dengan alumni, jadi pendistribusian penjualannya ke alumni yang biografi-biografi tadi.
Jadi kita bisa optimis ke depan dunia sastra pesantren kita akan terus berkembang?

Ya, tapi mungkin dalam kuantitas tidak terlalu banyak. Tapi nanti pasti akan muncul nama-nama baru dari dunia pesantren.
Bagaimana untuk mendorong agar sastra pesantren lebih berkembang lagi secara optimal?
Menurut saya dengan workshop-workshop penulisan itu penting ya. Karena sasarannya kan orang yang berbeda. Santri yang sudah lulus mungkin pulang, itu kan sudah jadi bekal jika memang ingin serius. Tapi yang baru masuk pesantren juga perlu diberi workshop. Dulu, misalnya, dilakukan oleh LkiS memberikan workshop penulisan bagi santri Yogyakarta. Kemudian berkembang di daerah-daerah dan terbentuklah jaringan. Sempat di Tasikmalaya juga ada.
Tapi problemnya banyak penerbit yang punya concern di bidang sastra menurun atau merugi dan hilang. Bagaimana untuk menyiasati agar sastrawan tetap punya media untuk menyampaikan gagasannya?
Sekarang ini menjadi penerbit kan relatif lebih gampang, karena kita di Tasik sendiri sudah banyak penerbit baru tapi memang sifatnya indie ya. Ada sekitar lima penerbit indie di Tasik ini. Dan terbilang sudah produktif. Tapi memang dalam jumlah yang terbatas. Baru kalau stoknya sudah habis dicetak lagi.
Sebagai seorang sastrawan dan budayawan, bagaima Kang Acep melihat perkembangan budaya bangsa kita akhir-akhir ini?
Dari sisi budaya, saya melihat dalam beberapa hal kurang menyenangkan ya situasi yang sekarang ini. Misalnya, kearifan-kearifan lokal yang menjadi nilai-nilai sebuah budaya menjadi tidak keluar. Tergerus. Contohnya, anggota DPR itu kan wakil dari berbagai daerah, dari berbagai etnis, dari berbagai budaya. Tapi ketika masuk ke lembaga itu (DPR), jadi seragam semua. Tidak ada, misalnya, yang tampil sebagai karakter Sundanya, karakter Jawanya, atau Bataknya. Sekarang ini jadi sama semua. Artinya, ketika urusan korupsi, misalnya, semua melakukan. Padahal, kan, di budaya-budaya tertentu itu kan sangat memalukan. Jadi sudah tecerabut dari akar budaya. Itu yang kemudian mewarnai dunia politik kita, dunia kebudayaan kita. Itu contoh yang di pusat ya. Ternyata di daerah juga sama. Kita menjadi seragam, prakmatis, hanya menjadi untung, dan tidak berpikir jauh untuk nilai-nilai.
Apakah fenomena formalisme agara juga ikut mempengaruhi terhadap perkembangan budaya kita?
Kalau menurut saya justru tidak. Bahwa memang ada kelompok-kelompok yang memang sangat formal dalam agama, tapi pengaruh tidak besar sekali. Pengaruhnya ada tapi hanya di kalangan tertentu. Sementara, agama yang berbudaya ada kelompoknya sendiri dan juga kuat. Bahwa kemudian politik juga diwarnai oleh (formalisme) agama itu juga sementara. Bukan total dalam kehidupan sehari-hari. Hanya untuk jualan saja. Kalau pemilu atau pilkadanya selesai kan biasa lagi.
Adanya Kementerian Kebudayaan kira-kira bisa mendorong pengembangan ke arah lebih baik atau sebaliknya?
Itu tergantung menterinya. Karena sebelumnya ada Direktorat Jenderal Kebudayaan, karena sekarang levelnya dinaikkan, mungkin bisa lebih leluasa. Kita tidak tahu seperti apa karena masih baru. Dengan dipisahkan, mungkin Kementerian Kebudayaan akan lebih fokus pada kebudayaan itu sendiri, mungkin yang ada hubungan dengan kearifan lokal atau karya-karya kreatif. Masalah kebudayaan dipisahkan dari Kementerian Pendidikan dan menjadi Kementerian Kebudayaan menurut saya sudah bagus, tapi kita belum tahu hasilnya seperti apa.
Bagaimana melihat perkembangan tradisi pesantren? Sejauh mana terjadi pergeseran?
Tergentung pesantrennya. Di Cipasung ini, misalnya. Ada dua hal. Pertama, pengajian. Itu tradisional. Sama dengan yang zaman dulu. Pengajian kitab kuning dengan cara yang seperti dulu. Kedua, juga ada sekolah umum seperti sekolah yang lainnya sekarang ini. Jadi ada dua hal itu. Di sini nanti santri akan memilih yang mana, dan bisa jalan beriringan. Tapi banyak juga pesantren-pesantren baru yang sepenuhnya sekolah umum, hanya ada pengajian agama, bukan tradisi ngaji kitab kuning. Itu biasanya elite-elite ya pesantrennya. Yang biasanya disebut boarding school itu. Di Tasik dan Ciamis banyak yang semacam itu. Sementara, yang Cipasaung ini atau Sukamana memang tetap mempertahankan yang tradisional. Cuma bedanya ada sekolah (umum). Kalau metodenya tetap tradisional. Tapi ada juga beberapa pesantren seperti di Priangan Timur, Garut dan Tasik, yang sepenuhnya masih bertahan secara tradisional, tidak ada sekolahnya. Tapi itu rata-rata fokusnya ke ilmu alat, tata bahasa, nahu saraf itu. Masih ada yang seperti itu, tapi biasanya kecil dan tidak banyak santrinya.
