Adab (Tidak) di Atas Ilmu

Sementara, adab membahas bagaimana orang bertindak, berkata, dan bersikap. Adab tidak berurusan dengan apa yang orang pikirkan dan rasakan. Segala hal yang diperbincangkan dalam forum adab adalah tentang gerak-gerik fisik. Jika seorang murid tidak sopan saat berbicara dengan guru, karena urakan misal, itu baru tugasnya adab untuk menegurnya.

Ada kalanya seseorang beradab, tapi di waktu bersamaan dia tidak berakhlak. Gerak-gerik hati memang tak selalu selaras dengan tindakan. Adab itu bisa di-setting. Tinggal sesuaikan dengan siapa berinteraksi, lalu kita akan mengatur semua perkataan dan tindakan. Di kondisi itu, kita tidak lebih hanya sedang berakting. Pura-pura sopan, pura-pura senang, pura-pura yang lain lagi. Jelaslah bahwa yang dipentingkan adalah akhlak, bukan adab.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di lain sisi, adab sebenarnya refleksi budaya suatu masyarakat. Konsep adab sama dengan moral. Ia memiliki relativitas dalam skala komunal dan bersifat dinamis. Dalam arti bahwa adab itu bervariasi antara satu masyarakat dan masyarakat lainnya. Namun yang menjadi poin, adab merupakan produksi budaya. Budaya itu produksi manusia. Tolak ukur yang jadi patokan adab adalah konsep-konsep manusia. Adab mempersoalkan baik buruknya tindakan. Sementara tiap individu dan tiap masyarakat memiliki tolok ukur baik-buruknya masing-masing.

Tidak ada patokan resmi mengenai adab universal. Di suatu daerah, seorang santri yang keluar tanpa atribut kesantrian akan dicap non-adab. Kalau seorang santri jalan-jalan tanpa memakai songkok, maka akan hilang adab di mata mereka. Padahal tutup kepala itu salah satu serpihan budaya. Tidak menggunakannya bukan berarti menentang agama.

Di pesantren saya, ketika seorang santri membaca Al-Qur’an, minimal harus bersih, pakai songkok, bersila, lebih bagus lagi hadap kiblat dan pakai parfum. Mengabaikan itu semua dianggap meninggalkan adab. Padahal, syarat baca Al-Qur’an hanya jangan hadas besar. Selain itu yang penting diperhatikan adalah tajwid dan fashahah. Kadang-kadang sebagian ustaz lebih mementingkan kostum daripada performa bacaan. Sangat disayangkan.

Salah satu yang juga sering disorot mengenai adab adalah perbandingannya dengan kehormatan. Bahwa orang beradab biasanya identik dengan status sosial rendah. Otomatis membuat lawan interaksinya seolah berstatus sosial tinggi. Beberapa kiai, ustaz, umana’ ma’had hingga bahkan satpam, mereka gila adab—ingin diperlakukan terhormat oleh santri. Namanya santri ya mau-mau saja, toh memang kewajiban mereka menjunjung adab.

Kabar buruknya, kondisi ini dimanfaatkan oleh sebagian oknum untuk melancarkan aksi syaitonirrojim. Terbetiklah berita santri dilecehkan, santri dibuli, senior menyiksa junior hingga bahkan ada yang tewas. (“‘beradab’ bisa membunuhmu”).

Dengan penjelasan ini, bukan berarti kita boleh suul adab, sungguh sama sekali tidak. Yang ingin disampaikan sejak awal adalah bahwa saya tidak setuju kalau adab dianggap lebih tinggi daripada ilmu. Kita bisa berdalih bahwa dengan hierarki semacam itu tidak lantas mengabaikan ilmu tetap di posisi penting. Sekilas bisa diterima, tapi jelas di sana mengandung beberapa kesalahan.

Pertama, adagium ‘adab di atas ilmu’ tidak bermaksud merendahkan ilmu atau meninggikan adab. Sebenarnya itu adalah bentuk didikan ulama kepada para santri bahwa sombong itu tercela, misalnya.

Kedua, adagium itu tidak berarti membolehkan orang bodoh. Ketiga, tak ada ruang bagi santri malas untuk berdalih “Mengabdi saja, tak perlu mengaji. Toh, adab lebih penting dari ilmu”.

Yang haru selalu diingat adalah bahwa orang bodoh tak pernah sebanding dengan alim, bahkan meski si bodoh ini beradab. Katakanlah, apakah setara orang-orang berilmu dan yang tidak berilmu…(Q.S az-Zumar : 9).

Tinggalkan Balasan