Adakah yang Menyanyikanmu di Atas Kuburmu?

Sampai di mulut makam, keranda diturunkan perlahan-lahan. Bagian atas keranda dibuka dan tubuh Nur yang berbalut kain putih itu nampak jelas di mataku. Tubuh Nur digotong oleh beberapa pria untuk dipindahkan dari keranda ke liang kubur. Saat itulah, terakhir kali kulihat tubuh kurus Nur yang terbalut kain kafan. Tubuhnya benar-benar terlihat sangat kurus. Rupanya dia berbohong ketika pernah kutanya soal penyakit yang diidapnya, “Cuma sakit biasa, kok,” kata Nur beberapa waktu lalu, saat ia masih bisa tersenyum. Oh, Nur! Sakit biasa seperti apa yang sampai membuat tubuh molekmu kurus macam ini?

“Allahu akbar Allahu akbar,” sayup-sayup suara azan terdengar dari dalam kubur. Nadanya yang terdengar menyedihkan itu sedikit-demi sedikit menyayat hati. “Sial! Siapa yang azan di bawah sana?” batinku.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah tiga pria naik dari bawah kubur, beberapa orang mulai menimbun Nur yang ada di bawah dengan tanah yang menggunduk di pinggiran makam. Debum, debum, debum, bunyi timbunan tanah itu sungguh menyiksa telingaku.

Nisan sudah dipasang rapi. Tertulis jelas di sana sebuah nama “Nur Aini”. Sehabis membaca tahlil seorang ustaz bertindak untuk membacakan talqin mayyit nyaring-nyaring di atas makam Nur. “Man rabbuka, wa man nabiyyuka, wa man imamuka . . . ”

“Buat apa pula membacakan talqin untuknya?” gumamku dalam hati, “Nur adalah wanita baik, taat beribadah, dan paham agama. Hei, Pak Ustaz! Tanpa kau bacakan talqin pun Nur bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat kubur. Dia itu pintar.”

Saat semua ritual telah usai orang-orang mulai membubarkan diri. Hanya sanak saudara Nur yang masih tersisa. Sedikit jauh dari makam, aku belum beranjak dari tempat dudukku.

“Fa! Ayo, pulang. Aku nebeng ke kamu lagi. ini kunci motornya,” terdengar suara Fikar mengajakku pulang sembari melempar kunci motor ke pangkuanku. Aku tak menggubrisnya.

Samar-samar aku teringat beberapa waktu lalu Nur pernah memintaku untuk menyanyikan sebuah lagu, lagu yang suka ia dendangkan sendiri. Hanya, saat itu aku tak terlalu menanggapinya. “Ayolah, Fa! Sekali saja. Demi teman baikmu ini,” ucap Nur saat itu, setelah beberapa kali kutolak permintaannya.

“Ck! Ya sudah ya sudah. Kalo suaraku jelek, jangan salahin aku, ya,” sahutku menerima permintaan Nur dengan berat hati dan menyanyikannya acuh tak acuh. Rupanya, aku tak sadar kalau Nur ingin mendengar lagu itu dariku, teman baiknya, lantaran mencoba menguatkan diri dari tumor yang menggerogoti tubuhnya. Dan sekarang, semua hanya tersisa penyesalan.

“Ah, Nur! Jika kau mau, aku akan menyanyikan lagu itu sekali lagi untukmu. Dengan suara terbaik yang kumiliki, Nur. Di sini, di antara tetaburan bunga yang menghiasi makammu, Nur,” gumamku lirih sambil mengusap wajah dengan lengan bajuku.

Tinggalkan Balasan