agama cinta

Agama Jibril yang Di-Izrail-kan

Isu agama tetap akan ada selama manusia modern masih sempit menerima perbedaan. Konflik adalah keniscayaan. Agama akan selalu dijadikan kendaraan berkampanye dan berdagang di ruang publik. Label agama lebih mudah mendulang suara politik dan juga efektif mendatangkan konsumen saat digunakan untuk jualan. Keyakinan tidak ternilai dengan harta, bahkan nyawa. Janji agama dianggap lebih valid daripada janji politik saat kampanye.

“Agama Jibril”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia kerap dijadikan senjata meraih kekuasaan. Menciptakan konflik dengan narasi politik identitas. Baginya, dengan sistem agama, kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan akan tercapai. Tidak peduli siapa tokohnya, asalkan membawa agama dalam cita-cita kekuasaannya akan mudah mendatangkan suara dari pemilih fanatik agama.

Ketika sistem dan tatanan sosial-politik dianggap tidak sesuai dengan kaidah ajaran agama, maka tindakan anarkis sering dilakukan sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap lembaga hukum. Memaksa aturan syariah diberlakukan terhadap siapapun, termasuk yang berbeda agama. Pemaksaan kehendak yang berujung konflik antaragama akan meluas jika kedua kelompok tidak ada yang mengalah.

Aksi-aksi anarkis menggunakan label Islam membuat citra Islam sebagai agama yang damai terdegradasi. Islam dikesankan agama yang suka kekerasan. Ketika banyak ulama mengingatkan keburukan dengan kebaikan, kelompok lain malah melakukan tindakan yang jauh dari esensi agama itu sendiri. Anehnya, perilaku kekerasan atas nama agama masih dianggap sebagai kebenaran. Seolah Tuhan dan nabi-nabi memperbolehkan dan bahkan mengajarkan kekerasan.

Tinggalkan Balasan