Terdapat ciri-ciri dan cara yang melekat pada para eksploitator agama. Penulis sebut eksploitator dikarenakan mereka bukanlah ulama dalam arti sesungguhnya, akan tetapi seseorang yang ingin mengeksploitasi umat dengan menggunakan agama Islam sebagai alatnya. Salah satunya adalah dengan meminta umat untuk bersedekah buat dirinya dengan berdalih Allah Sang Maha Pemberi Rezeki. Mereka memintal dalil-dalil agama untuk kepentingan dirinya sendiri. Kehidupan mereka juga tergolong kehidupan yang sangat mewah, sangat berbanding terbalik dengan para jemaahnya yang tergolong ekonomi kelas bawah.
Ceramah-ceramah yang disampaikan oleh para eksploitator, sesungguhnya hanya retorika kosong yang tidak ada substansinya bagi kemajuan peradaban umat Islam. Mereka sangat pandai beretorika dengan bahasa yang terkesan santun dan mudah diterima oleh masyarakat luas. Namun, jika diperhatikan lebih dalam lagi, pembahasan mereka bukanlah pembahasan intelektual, melainkan pembahasan-pembahasan yang lucu lagi ringan. Bukannya mencerdaskan umat, mereka malah menjerumuskan umat kepada lubang kebodohan. Dan ironisnya, pengikut mereka sangatlah banyak dari berbagai daerah di Indonesia. Hal itulah yang menyebabkan kualitas umat Islam hanya sebatas “floating mass“, bukan kaum intelektual.

Sadar ataupun tidak sadar, para eksploitator tidak hanya bergerak di dunia ceramah, mereka juga merambah ke dunia maya. Konten yang mereka tawarkan adalah dengan mengunyah-ngunyah pembahasan yang harusnya telah selesai empat belas abad lalu. Tak hanya itu, konten-konten yang ditawarkan justru malah terkesan memecah persatuan umat Islam.
Dari sekian selebgram berbalut agama yang penulis amati, mereka mempunyai kesamaan yaitu, kesalahan logika berpikir. Logika mereka tidak mampu menjadikan suatu dalil untuk menghukumi suatu permasalahan, sehingga fatwa yang mereka buat sangat tidak masuk akal.
