Hal itu juga terlepas dari mereka tidak memahami ilmu alat yang digunakan untuk menerjemahkan dan memahami sebuah teks. Yang lebih berbahaya, ketika konten mereka yang menggambarkan Islam hanya sebagai agama penuh dengan ancaman dan siksaan. Hal demikianlah yang membuat umat menganut agama Islam karena takut akan ancaman dan siksaan, bukan lagi karena Islam sebagai agama yang benar.
Salah satu instrumen yang paling mudah dijual oleh para eksploitator adalah para penghafal Al-Qur’an. Bentuknya bermacam-macam. Ada yang meminta sumbangan untuk para penghafal Al-Qur’an ataupun wakaf bangunan yang digunakan oleh para penghafal Al-Qur’an. Satu slogan yang mereka janjikan kepada umat yang hendak menyumbangkan hartanya yaitu, berkah. Padahal konsep berkah tidak demikian. Menyumbangkan harta kepada mereka hanya menyuburkan akumulasi kekayaan mereka yang nantinya akan melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an cacat kompetensi. Hanya mampu menghafal, akan tetapi tidak mampu, bahkan tidak tahu, aktualisasi dari apa yang dihafalkannya.

Dengan bermodalkan jubah dan sorban, seorang eksploitator dapat dengan mudah mengelabui korbannya. Secara logika, tidak mungkin seorang pencuri mengaku bahwa dirinya seorang pencuri, begitu juga dengan para eksploitator yang menjelma dalam pakaian suci. Wallahu a’lam bi as-Showwab.
