Cerpennya Pengemis dan Shalawat Badar yang pernah dimuat dalam bulanan Warta NU pada Februari 1989, memperlihatkan ilustrasi menarik bagaimana orang kecil dan pandangan dunianya itu dihadirkan. Cerpen ini berkisah tentang seorang pengemis yang mendendangkan shalawat badar di dalam bus yang penuh jejalan penumpang. Tak ada seorang pun yang memperhatikannya dan sebagian besar bahkan mengabaikan dan mencibirnya. Ketika kemudian bus itu mengalami kecelakaan dan penumpang banyak yang terluka bahkan tewas, si pengemis itu dengan menakjubkan melenggang keluar dari bus tanpa sedikit pun terluka sembari melantunkan lagi shalawat badar. Alur cerita tampak sederhana, tetapi muatannya jelas sangat dalam. Antara kemiskinan, formalisme keagamaan, kepekaan sosial, dan lain-lain berjalin berkelindan dalam sepersekian menit kehidupan di dalam bus yang kencang melaju itu.
Kang Tohari termasuk penulis yang cukup produktif. Boleh dikata sejak awal kepengarangannya, rata-rata setahun sekali mengeluarkan karya baik berupa novel, antologi cerpen, maupun kumpulan esai. Beberapa dari karyanya terus mengalami penerbitan ulang.

Berikut daftar karyanya dan tahun pertama kali terbitnya: Kubah (novel, 1980); Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982); Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985); Jantera Bianglala (novel, 1986); Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986); Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989); Bekisar Merah (novel, 1993); Mas Mantri Gugat (Kumpulan Esai, 1994); Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995); Mas Mantri Menjenguk Tuhan (Kumpulan Esai, 1997); Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000); Belantik (novel, 2001); Orang Orang Proyek (novel, 2002); Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004); dan Mata yang Enak Dipandang (kumpulan cerpen, 2013).

Berbagai Penghargaan
Kang Tohari kian bersemangat menulis ketika karyanya yang berjudul Jasa-Jasa buat Sanwirya menjadi pemenang Hadiah Harapan Sayembara Cerpen Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep (pada 1977). Salah satu novelnya yang berjudul Di Kaki Bukit Cibalak juga memperoleh hadiah Sayembara penulisan Roman yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1979. Novel Kubah mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama sebagai bacaan terbaik bidang fiksi pada tahun 1980.
Sementara itu, Novel Jantera Bianglala dinobatkan sebagai fiksi terbaik (pada 1986). Dia mendapat hadiah berupa uang Rp 1 juta (angka yang sangat besar saat itu). Hadiah tersebut diserahkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan. Lalu, Novel Bekisar Merah mengantarkan Kang Tohari untuk meraih Hadiah Sastra ASEAN pada tahun 1995. Dalam kegiatannya sebagai penulis, Kang Tohari mengikuti berbagai kegiatan penulisan internasional antara lain International Writing Program di Lowa, Amerika Serikat, pada 1990. Novel Ronggeng Dukuh Paruk versi Banyumasan (2006) meraih Hadiah Sastera Rancagé tahun 2007.
