Akhir Cerita Vika dan Kakaknya

***

Pukul 4.46, Ahdan sedang memasak sarapan, Vika memulai percakapan. Ia berniat menyampaikan permintaan uang kepada kakaknya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kak sepatuku, belikan sepatu untuk sekolah! Sepatuku sudah robek,” pinta Vika. Ahdan mengambil dompet sederhananya.

“Aku besok ada kegiatan ekstrakurukurer KIR Kimia. Tambahkan juga uang saku untuk praktikum bersama teman-teman.”

Ahdan memberikan dua lembar uang seratus ribuan kepada Vika. Terlihat beberapa uang sisa di dompet kakaknya, Vika ingin meminta lebih.

“Kurang Kak. Sepatu saja seharga tiga ratus ribu,” tangan Vika mengambil sisa uang yang ada di dompet.

Hati Ahdan berkecamuk. Ia bingung memilih antara tidak menyakiti hati Vika atau harus membeli bahan-bahan martabaknya. Karena bingung, Ahdan tak bisa mengutarakan alasan bahwa sisa uang di dompetnya untuk berbelanja bahan dagangannya nanti. Pikiran Ahdan kalut hari ini. Ia tidak bisa menyelesaikan masalah bagaimana bisa berjualan hari ini. Ia hanya bisa terduduk di ruang tamu.

Pagi ini, Yoyok berniat mengunjungi kantin Ahdan. Ia berniat membantu Ahdan berjualan senyampang meminta sarapan kepadanya. Tetapi sesampainya kantin, Ahdan tidak kunjung muncul. Melihat Vika di halaman sekolah, ia berniat untuk menanyakan keadaan sahabatnya itu.

“Hei Vik. Apa kakakmu baik-baik saja?”

“Iya, kenapa?” jawab Vika dengan ketus.

“Ia tidak berjualan di kantin hari ini. Aku kira ia sakit. Apa dia di rumah sekarang?”

Vika tidak menjawab. Hatinya berbisik, mungkin ia keterlaluan kepada kakaknya sehingga kakaknya marah kepadanya.

“Halo… Vika! Apa Ahdan ada di rumah sekarang?”

“Tadi pagi dia di rumah. Aku titip uang ini kepada kakak jika kau mengunjunginya,” Vika memberikan uang seratus ribu kepada Yoyok.

“Kenapa kau tidak titip hatimu kepadaku?” balas Yoyok dengan nada bercanda.

Vika memalingkan muka. Ia melangkah meninggalkan Yoyok. Ia sebenarnya menaruh hati kepada Vika. Tetapi, Yoyok menyadari Vika tidak mungkin menaruh hati kepada orang yang nasibnya tidak jelas.

Usai perpincangan, Yoyok pergi menuju rumah Ahdan. Ia berniat melihat keadaan sahabatnya. Sesampainya di rumah Ahdan, ia melihat Ahdan sedang duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong.

“Mangapa kamu tidak berjualan?” tanya Yoyok kepada Ahdan.

Tinggalkan Balasan