“Tidak ada uang,” jawab Ahdan sambil terseyum. Dalam keadaan apa pun, Ahdan selalu tersenyum. Umi mengajari kepada Ahdan, ‘Jika kita tersenyum, masalah seperti apa pun akan menjadi lebih ringan.’
“Oh, ini tadi aku diberi uang oleh Vika.”

Ahdan tersenyum lebar karena masalahnya sekarang sudah teratasi. Ia langsung bergegas mengambil tas untuk segera berbelanja ke pasar.
“Aku akan membantumu berbelanja agar nanti kamu tidak terlambat berjualan di sekolah. Tapi aku lapar. Bolehkah aku meminta sarapan?”
“Makanlah.” Ahdan menunjuk meja makan. Yoyok segera menuju meja makan.
“Aku susul kamu nanti di kantin setelah sarapan.”
“Ya, jaga Vika jangan sampai diganggu,” pesan Ahdan kepadanya.
Ahdan memutuskan berlari pergi ke pasar untuk mengejar jam istirahat di sekolah. Jarak pasar yang jauh membuat napasnya tengengah-engah. Sesampainya perempatan dekat pasar, Ahdan terlihat kebingungan menyeberang jalan. Ketika melangkahkan kakinya, Ahdan tidak memperhatikan jalan sehingga hampir saja tertabarak kendaraan.
“Hei, hati-hati kalau menyeberang!” teriak seorang pengendara yang hampir menabraknya.
Biasanya, Ahdan selalu berbelanja sebelum pukul 06.00 untuk menghindari keramaian lalu-lintas. Melihat Ahdan kebingungan menyeberang, seorang polisi membantunya.
“Tumben belanja jam segini? Apa kamu kesiangan bangun?” tanya seorang ibu penjual bahan-bahan kue. Ahdan menggeleng.
“Nanti kamu lewat jalan barat pasar. Kamu menyeberang rel kereta api itu lebih cepat dari jalan yang biasa yang kamu lewati. Tapi hati-hati, jalan itu menanjak. Tengok kanan-kiri sebelum menyeberang.”
Ahdan manggut-manggut mendengar pesan perempuam itu. Sesuai dengan petunjuk penjual tadi, Ahdan melewati jalan pintas barat pasar.
Ahdan berlari dengan sisa napasnya. Saat ia hendak menyeberang rel, terdengar suara klakson kereta api yang semakin dekat. Ahdan yang tak paham cara menyeberang hanya berdiri di atas kerikil-kerikil setengah meter dari rel. Jarak ia berdiri masih termasuk lintasan kereta api. Klakson kereta api terus dibunyikan masinis, tapi Ahdan tak kunjung menjauh dari perlintasan kereta api. Dalam hitungan detik, belanjaan Ahdan berhamburan karena ia tersambar kereta.
***
Vika kini hanya bisa menangis ketika melihat kakaknya dikuburkan. Hanya penyesalan yang mengisi ruang hatinya.
“Ahdan sudah berbahagia bersama orang tuamu. Aku kagum kepadanya,” kata Yoyok.
“Ia sudah berusaha keras untuk menjaga amanat orang tuamu. Jangan menanggisinya. Kasihanilah dia untuk terakhir kali dengan mengikhlaskan serta selalu mendoakannya.”
