Dalam gerakan Islam politik tertentu, seseorang diajarkan materi yang lepas dari tanggung jawab, metode, dan urutannya diberikan berdasarkan agenda setting atau framing tertentu.
Di media sosial, algoritma memberikan materi yang sekilas terlihat acak namun sebenarnya merupakan hasil dari pantulan preferensi beragama kita. Materi agama tak tentu arah, dan urutannya terpersonalisasi, yang pada gilirannya dapat mengantarkan seseorang pada kesimpulan-kesimpulan yang kadang bisa mengeraskan kepercayaan kita, atau bahkan yang tak terduga sekalipun.

Hal ini ditimbulkan dari beberapa faktor. Pertama, kompetisi antar-golongan Islam di Internet umumnya dan di media sosial khususnya semakin intens. Kedua, kebutuhan agama dan hasrat partisanship yang juga menguat di kalangan masyarakat saat ini. Ketiga, masih belum optimalnya literasi digital, khususnya yang berkaitan dengan praktik konsumsi informasi agama, sebagai kemampuan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pembelahan dan kesimpulan-kesimpulan tak terduga yang disebabkan oleh algoritma, pertikaian dan api fitnah dapat semakin menyala. Repotnya, sering kali hal ini bermuara pada timbulnya perasaan “lebih bermoral” dibanding orang lain. Padahal, masalah utamanya terletak pada absennya metode yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan pada diri orang lain itu sendiri.
Oleh karena itu, seberbeda apa pun pendapatnya, yang harusnya dikritik adalah substansi argumennya, bukan identitas ataupun persona individunya. Hal ini memang tidak mudah dilakukan karena tren beragama saat ini cenderung mengarah pada praktik menyamakan bahwa perbedaan pendapat adalah sama dengan perbedaan kualitas moral dan keimanan.
Padahal, kualitas moral dan keimanan bukanlah ranah manusia untuk menilai. Manusia hanya berkewajiban memastikan bahwa apa yang ia katakan dan lakukan memiliki dasar yang bisa dipertanggungjawabkan dan tidak memantik pertikaian ataupun api fitnah antarsesama.
