Aku dan Pesantrenku (4): Kesabaran Berbuah Berkah

Saat itu hujan tengah mengguyuri bumi Nurul Islam Karangcempaka. Cepat-cepat saya kembali ke dapur. Sampai di dapur, bukan memasak yang saya lakukan. Bagaimana hendak memasak, sedangkan tak sebulir beras pun yang saya punya. Maka, dengan dibantu sendok nasi, saya mengeruk sisa nasi setengah hangus milik Buwanto yang tetap lengket di kastol tersebut. Sungguh, sambil meneteskan air mata, saya memakannya tanpa lauk-pauk. Saya menabahkan diri. Sambil mengelus dada, hati ini berbisik; sabar, Zi, kamu pasti kuat.

Dan yang tak bisa terlupakan pula, detik-detik keinginan yang meletup-letup untuk bisa bersujud ketika salat dengan dahi menyentuh sajadah. Saya memang satu-satunya santri yang tidak memiliki sajadah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tepat pada waktu Jumat Bersih, kebetulan sekali saya ditugaskan membakar sampah di jurang sampah. Dengan memegang korek api, tangan terulur siap membakarnya. Tak sengaja mata saya mendapati buntalan sampah terbujur di tengah jurang. Saya hampiri lalu membukanya, dan buntalan itu pun berserakan. Rupanya, saya menemukan sajadah yang bagian ujungnya sedikit terkena bakar. Pucuk dicita ulam pun tiba. Sekejap, timbul perasaan dalam diri untuk memanfaatkannya.

Demi menghindar dari hal-hal berbau negatif, sajadah itu kemudian saya ikat sebentuk bola, lalu saya lempar ke jalan dan pura-pura kutendang hingga ke tempat sepi. Baru setelah itu, dengan sembunyi-sembunyi, saya mencucinya. Tak tertahan, air mata menggenang. Setelah kering, sajadah itu saya pakai salat, bermunajat dan menumpahkan air mata kepada Allah di sempilan rusuk malam.

Pernah juga, pada suatu malam saya duduk sendirian di belakang asrama. Saya nyalakan sepotong lilin. Lilin itu yang saya gunakan memperekat kembali tali sandal yang terputus. Biasanya sekali tali sandal terputus, langsung saya lempar ke tong sampah. Tapi, tidak begitu bagiku saat itu. Saya menyambungnya lagi dengan dipanaskan ke api lilin. Berapa hari kemudian, sambungan itu kembali terputus. Mau saya sambung lagi, tapi sambungan bertumpang sambungan dan terlalu banyak sambungan, akhirnya tidak bisa lengket. Namun saya tak kering akal. Saya tusukkan sehelai peniti ke ujung tali pengikat sandal jepit. Setiap hari saya pakai sandal itu dalam segala aktivitas. Walau kadangkala sela-sela jempol dan telunjuk kaki merasa sakit. Dan bila tiba musim hujan, kaki selalu becek akibat lubang bagian depan sandal yang terus menghisap basah dan tanah becek.

Saya sadar bahwa menuju kesuksesan tidak ditaburi bunga indah semerbak mewangi, melainkan dihalau deduri, kerikil tajam, dan terkadang ranjau yang mesti diseberangi. Maka, saya meyakinkan diri bahwa saya bisa menyeberangi duri dan kerikil tajam ini. Saya mantapkan diri bahwa takkan lekang oleh panas dan takkan lapuk oleh hujan.

Saya terus menjalani hari-hari dengan denyut senyum dan degup kesabaran. Sebab, pertama, saya yakin ujian dari-Nya takkan melebihi kekuatan diri sendiri. Kedua, Allah tidak pernah tidur dalam mengatur hidup seseorang. Ketiga, pelangi terlukis setelah hujan badai.

Kini, ketika telah balik hidup di tengah-tengah masyarakat, saya rasakan hikmahnya begitu besar. Berkah saat nyantri betul-betul terasa. Doa kiai dan para guru benar-benar selalu teriring kepada santrinya, kendati sudah alumni.

Beberapa bulan sejak kepulangan dari pondok (2006), saya kuliah sambil disuruh ngajar di salah satu pesantren besar di Kabupaten Jember. Bahkan, di pesantren tersebut saya temukan tulang rusukku (menikah tahun 2011). Lalu, saya  berkesempatan menyelesaikan kuliah di pascasarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) KH Achmad Shiddiq Jember (tahun ini; 2021) dan sambil merintis Yayasan Pendidikan Islam Qarnul Islam di tempat kelahiranku.***

One Reply to “Aku dan Pesantrenku (4): Kesabaran Berbuah Berkah”

Tinggalkan Balasan