Kurang dari sebulan mondok di Madura, saya ditinggal sendirian oleh Hafi. Karena sakit, Hafi harus pulang Jember dalam waktu yang cukup lama, hingga tidak diketahui kelanjutannya; hendak kembali lagi ke pondok atau berhenti. Saya harus menerima kenyataan dan harus kuat menjalani hidup berjauhan dari keluarga, walau tanpa teman yang sama-sama dari Jember. Tidak boleh tidak, saya harus mampu hidup seorang diri di pulau yang tidak pernah saya singgahi sebelumnya. Hanya saya seorang diri, santri yang berasal dari luar Madura di Pondok Pesantren Nurul Islam kala itu.
Keluarga tidak punya. Famili pun tidak ada yang tinggal dan berasal dari pulau garam. Hari-hari selalu dalam kesendirian. Sepi. Sepi dari keluarga dan teman sepermainan semasa kecil. Rasa tidak kerasan mulai menikam. Ketika situasi seperti itu, saya sangat ingin bersua dengan keluarga di Jember, tapi takut hendak pulang. Takut tidak sampai ke tujuan karena belum pengalaman naik bus seorang diri. Akhir punya akhir, saya memilih untuk konsentrasi dan kembali pada niat awal datang ke Madura; li thalibil ‘ilmi bi ridlallahi Ta’ala. Menuntut ilmu dengan mengharap rida Allah, Dzat Yang Maha Tinggi.

Kerapkali saya tersedu menangis manakala menyadari ruwetnya hidup dan teringat kepada keluarga. Saya pernah berkali-kali sesenggukan sebab sakit yang tak kepalang perih. Saya tak enak minta bantuan pada teman-teman di pondok. Lagi-lagi saya ingat pada ibu yang selalu ada untuk merawat ketika saya sakit.
Sebagai santri yang sangat berjauhan dari rumah asal, saya kerapkali mengalami telat kiriman. Bukan hanya hitungan hari, tapi bulan. Berbulan-bulan saya kekurangan bekal. Berkali-kali saya telepon keluarga. Berkali-kali saya kabarkan bahwa kiriman yang dulu kini sudah tak berbekas. Berbulan-bulan saya menanti kiriman, namun tak kunjung tiba.
Akhirnya, saya bertekad mencari kerja. Kerja menyiram tembakau milik Pak Hasim di sawah utara rumahnya. Sawah milik Pak Hasim berada di belakang gedung madrasah aliyah putra. Setiap bakda Subuh setelah mengaji kitab turats, saya istikamah saban hari menyiram tembakau. Tubuh saya yang masih kecil dan lemah seringkali sempoyongan seolah nyaris ambruk di kala memikul berat air di atas gayung besar yang terbuat dari seng. Dan sebagaimana biasa, seusai menyiram tembakau, istri Pak Hasim memberiku sepiring nasi berlauk teri dan sedikit sambal kering. Perut pun terganjal dan bisa saya manfaatkan untuk beraktivitas selama satu hari. Kurang lebih selama satu bulan, saya makan satu kali dalam sehari-semalam.
Teringat pula manakala pada suatu malam mata tak mampu terpejam lantaran seharian perut keroncongan, tak ada sebutir nasi pun yang saya makan. Terpaksa bangun dan berjalan menuju dapur santri. Sepintas saya dapati kastol yang tidak asing lagi di mata, teronggok di atas tungku. Saya segera ke kamar sebelah mencari dan membangunkan teman, pemilik kastol itu.
“Akhi, hal yajuzu ‘alayya an asta’ira qidraka? (Aku pinjam kastolmu. Boleh, kan?)” tanyaku kepada Buwanto Masaran Bluto.
“Na’am, tafadlal! (Iya, silakan!).”
“Aina satathbakh? (Kamu mau masak di mana?),” ia bertanya sambil mengucek matanya.
“Fil mathbakh, Insya Allah (Insya Allah, di dapur).”

Mantap