Saat itu saya adalah aktifis mahasiswa yang tergolong hiperaktif. Karena itu saya jarang berada di pondok —dan rada-rada tambeng. Kalaupun di pondok, sesekali melanggar disiplin. Misalnya, tak ikut ngaji atau salat berjemaah, terutama yang subuh. Untuk menghindari patroli keamanan pondok, pintu saya gembok dari luar, lalu saya masuk kamar melalui jendela. Ketika petugas keamanan membangunkan para santri untuk jemaah subuh, kamar saya terlewati karena tergembok dari luar. Aman.
Suatu hari saya dipanggil Gus Arif Rusdi, salah satu putra kiai Dhofir yang kelak menjadi salah satu pengasuh Pesantren Al-Fattah Talangsari. Hati saya dag dig dug menduga akan kena hukuman karena jarang berada di pondok. Saya memang bukan “santri baik-baik saja” karena sewaktu di Al-Qodiri pun pernah kenak takzir: gundul!

Alhamdulillah, dugan saya meleset. Atau sesungguhnya tak meleset, tapi diberi hukuman dalam bentuk lain. Waktu itu pondok mau mengadakan imtihan. Saya diberi tugas mengadakan pementasan. “Pementasan apa, Gus?”
“Drama musikal,” jawab Gus Arif, yang biasa juga dipanggil Gus Didik.
Kepala saya langsung berputar-putar. Lebih gampang ditakzir saja daripada diberi tugas seperti ini, kata saya dalam hati. Apalagi, saya disuruh menulis skenarionya, juga menjadi sutradaranya. Soal ide ceritanya bisa didiskusikan bersama. Saya juga tak tahu apa latar belakang Gus Arif memberi tugas seperti itu. Ia hanya berucap pendek, “Sampean pasti bisa.”
Tentu saja saya tak berani menolak perintah seorang gus. Saya mencoba menghindar dengan bertanya, “Musiknya dari mana, Gus?” Pikir saya, kalau tak ada musiknya sudah pasti tidak jadi. Tapi Gus Didik malah menarik tangan saya, “Ayo ikut saya.”
Mata saya terbelalak ketika diajak masuk ke ruangan khusus. Isinya, masyaallah, koleksi kaset musik instrumental karya komposer dari berbagai penjuru dunia dengan beragam genre. Jumlahnya? Lebih dari seribu. Dan koleksi ini berada di dalam pesantren yang selama itu dikenal sebagai pondok salaf.
Saya tak berani bertanya bagaimana asal-usul Gus Arif memiliki koleksi kaset-kaset (waktu itu belum ada cakram padat atau flashdisk) musik seperti ini. Bertanya pun percuma; saya tahu, para gus seringkali memiliki sumber-sumber misterius.
Akhirnya, selama berhari-hari saya mendengarkan musik-musik itu, untuk dipilih-pilih lalu dikompilasi dalam rekaman ulang yang menjadi bagian dari drama musikal yang sedang kami rancang. Di ruangan khusus Gus Arif itu saya sudah seperti seorang peñata musik.
Kisah ini juga terbilang “upnormal”. Tiba-tiba saja saya bisa menulis skenario dan menjadi sutradara, meskipun entah seperti apa kualifikasinya. Yang pasti drama itu akhirnya dipentaskan dengan belasan pemain. Lumayan sukses untuk ukuran pementasan di pondok. Kelak saya mencoba-coba membaca buku-buku tentang penulisan skenario dan penyutradaraan, dan apa yang saya lakukan itu tidak salah. Tapi saya tak bisa mengulanginya lagi.

Sedikit menyentil tentang musik yang akhir-akhir ini gencar dibincangkan dalam diskusi khilafiyah. Saya juga suka musik, penikmat audio saja tidak lebih. Mantab Gus Arif Rusdi!