Al-Amien Prenduan Wisuda Ratusan Santri

Gema selawat dan suasana khidmat menyelimuti Gedung Serba Guna (Geserna) Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) Putri, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, Minggu (8/2/2026). Ratusan santri TMI resmi dikukuhkan sebagai alumni dalam prosesi Wisuda Alumni 2026 yang terdiri dari Angkatan LI (51) Putra dan Angkatan XXXVII (37) Putri.

Bagi Al-Amien, acara yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB ini bukan sekadar seremoni kelulusan tahunan. Ia adalah perwujudan dari sebuah sejarah panjang perjuangan pendidikan Islam yang telah membentang selama lebih dari satu abad di tanah Madura. Di balik wajah ceria santri yang diwisuda itu, tersimpan estafet kepemimpinan yang bermula dari sebuah surau atau langgar kecil “congkop” pada 1899 di bawah rintisan KH Ahmad Khatib.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Matarantai Sejarah dan Visi

Membicarakan TMI Al-Amien tak bisa dilepaskan dari peran KH Djauhari Chotib, pengasuh pertama yang merintis lembaga ini sejak pertengahan 1959. Selama sepuluh tahun, di lokasi yang kini dikenal sebagai Pondok Tegal, benih-benih intelektualitas disemai hingga wafatnya sang kiai pada Juli 1970.

Setelah wafatnya KH Djauhari, putra-putra dan santrinya melakukan langkah besar: membuka lokasi baru seluas 6 hektar dan membentuk “tim kecil” yang beranggotakan KH Muhammad Tidjani Djauhari, KH Muhammad Idris Jauhari, dan KH Jamaluddin Kafie. Mereka melakukan studi banding ke Pondok Modern Gontor serta memohon restu KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi untuk menyusun kurikulum TMI dengan paradigma baru.

Tepat pada Jumat, 10 Syawal 1391 atau 3 Desember 1971, TMI Putra dengan sistem yang ada sekarang resmi didirikan oleh KH Muhammad Idris Jauhari. Jejak ini diikuti 14 tahun kemudian dengan berdirinya Tarbiyatul Mu’allimaat al-Islamiyah (TMaI) untuk santri putri pada 19 Juni 1985 oleh Nyai Anisah Fatimah Zarkasyi.

Visi lembaga ini tetap ajek: semata-mata untuk ibadah dan mengharap rida Allah SWT yang tercermin dalam sikap tawadu. Misinya adalah membentuk individu unggul menuju terbentuknya umat terbaik (khairo ummah). Secara khusus, TMI mempersiapkan kader ulama dan pemimpin umat (mundzirul qoum) yang muttafaqih fid dien; memiliki kemampuan dakwah ilal khair, amar ma’ruf nahi munkar, dan indzarul qoum.

Pesan Kedekatan dari Gontor

Nuansa kekeluargaan dan sanad keilmuan yang erat antara Prenduan dan Gontor semakin kental dengan hadirnya Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, yang dalam kesempatan ini diwakili KH Dr Husni Kamil Djailani. Dalam pidato pelepasannya, Kiai Husni menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kepesantrenan di tengah perubahan dunia yang cepat.

“Al-Amien dan Gontor adalah satu jiwa dalam perjuangan. Para wisudawan hari ini adalah duta-duta nilai yang membawa misi besar. Jadilah perekat umat dan teruslah belajar, karena tugas kalian sebagai pendidik tidak akan pernah usai,” ungkap Kiai Husni Kamil sebagaimana terekam dalam siaran langsung prosesi tersebut. Kehadirannya sekaligus menjadi simbol restu dan kesinambungan perjuangan antara kedua institusi besar ini.

Pengabdian ke Pelosok Negeri

Keberhasilan para wisudawan tidak lepas dari fondasi kokoh yang setara dengan jenjang Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, atau SMP dan SMA. Namun, setelah prosesi sakral ini usai, langkah para lulusan tidak langsung berhenti. Sebagai bagian dari kurikulum kehidupan, para santriwan dan santriwati yang telah diwisuda ini akan ditugaskan ke berbagai lembaga pendidikan, khususnya pondok pesantren di seluruh wilayah Indonesia.

Penugasan ini merupakan bentuk pengabdian nyata, di mana para alumni diuji untuk mengamalkan ilmu yang didapat selama di pesantren sebelum mereka terjun ke masyarakat luas atau melanjutkan studi ke jenjang internasional.

Amanat dan Akses Digital

Pimpinan Umum Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani, M.A., dalam amanatnya mengingatkan para alumni tentang beban sejarah besar yang mereka panggul.

“Wisuda ini adalah bukti keberlanjutan perjuangan dari surau kecil KH Ahmad Khatib hingga menjadi lembaga seperti sekarang. Jagalah identitas santri dan Panca Jiwa di mana pun kalian berada,” tegasnya di hadapan wisudawan dan orang tua.

Turut hadir memberikan restu, Pengasuh TMI KH Muhammad Khoiri Husni, Lc., serta Direktur TMI Putra KH Dr. Ghozi Mubarok, MA., yang secara simbolis melepas para kader ini. Mengingat sejarahnya yang melegenda, panitia menyediakan fasilitas live streaming melalui tautan bagi ribuan alumni di seluruh dunia agar tetap bisa menyaksikan momen bersejarah ini.

Dengan pengukuhan Angkatan LI dan XXXVII ini, Al-Amien Prenduan kembali menegaskan posisinya sebagai pusat pendidikan Islam terkemuka yang mampu menyelaraskan tradisi luhur dengan tantangan zaman modern.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan