Seorang sejarawan asal Tunisia, Othman Al-Ka’ak mengatakan bahwa ia pernah masuk ke perpustakaan Rene Descartes. Di sana ia menemukan salah satu kitab Al-Ghazali: Al-Munqidz min al-dhalal. Kitab berada di antara deretan buku-buku Descartes.

Al-Ka’ak membukanya, lalu menemukan satu teks yang diberi garis merah di bawahnya. Teks tersebut berbunyi: الشك اول مراتب اليقين (keraguan Adalah tahap awal dari keyakinan).

Tepat di samping teks tersebut ditemukan pula catatan pinggir berbahasa latin: “Nil dabet hoc in nostra methodologia” yang artinya: “Hal ini harus kita masukan ke dalam metodologi kita”
Cerita tersebut masyhur terlebih di kalangan cendekia Timur. Para sarjana muslim mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bukti akan pengaruh pemikiran Al-Ghazali terhadap Descartes.
Namun begitu, masih banyak orang yang skeptis akan kebenaran klaim dari Al-Ka’ak tersebut. Salah satu alasannya karena sampai sekarang masih belum ada publikasi resmi dari katalog perpustakaan Descartes.
Bahkan, teks الشك اول مراتب اليقين juga sangat sukar kami temukan di kitab Al-Munqidz min Al-Dhalal, seperti yang dijelaskan oleh Al-Ka’ak. Hal itu membuat kami pun juga menjadi skeptis pada awalnya. Namun, setelah kami baca salah satu karya Descartes, Diskursus dan Metode, kami menjadi maklum, mengapa cerita tersebut menjadi sangat diterima oleh banyak orang.
Al-Ghazali hidup pada abad ke-11 hingga awal abad ke-12, tepatnya pada tahun 1058-1111 M. Ia tinggal di Baghdad, yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan dinasti Abbasiyah.
Sedangkan, Desacrates lahir jauh setelahnya dengan rentang jarak 500 tahun. Yakni pada abad ke-17, tepatnya pada tahun 1596-1650 M. Ia lahir di sebuah kota kecil di Touraine Bernama La Haye di Prancis. Keduanya berada pada jarak masa yang berbeda dan tumbuh dalam lingkungan dan kebudayaan yang jauh berbeda pula.
Memang, keduanya sama-sama berada di tengah-tengah lingkungan religius. Akan tetapi mereka hidup dalam dimensi religius yang jauh berbeda. Bila Al-Ghazali lahir di tengah keluarga yang rajin ke masjid, maka Descartes lahir dari keluarga yang rajin ke gereja.
Masa hidup yang berbeda serta letak geografis dan kebudayaan yang berbeda tentu akan menghasilkan pemikiran yang berbeda pula. Mempertimbangkan hal tersebut, kecil sekali kemungkinan untuk keduanya bisa secara tidak sengaja atau kebetulan memiliki pandangan dan gagasan yang serupa. Sungguh seperti mustahil agaknya, membayangkan hal itu benar-benar terjadi.
Tapi faktanya memang demikian. Saya tidak ingin ikut-ikutan mengatakan bahwa Descartes telah terinspirasi dari Al-Ghazali. Tetapi tidak bisa dimungkiri, bahwa banyak gagasan dalam buku Diskursus dan Metode yang bertalian atau bahkan mirip dengan pemikiran yang disampaikan oleh Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min Al-Dlalal. Berikut kami sampaikan temuan temuannya.
Meragukan Indra
Pada bagian keempat buku Diskursus dan Metode, ketika menjelasakan tentang asas-asas metafisika, Descartes mengungkapkan bahwa indra seringkali menipu kita. Ia pun meragukan apa-apa yang ditangkap oleh indranya. Hal yang sama juga disampaikan Al-Ghazali dalam kitabnya.
Al-Ghazali menyampaikan bahwa kita melihat bintang di langit seukuran dengan satu koin dirham/dinar. Padahal ilmu geometri telah meyatakan bahwa sejatinya ia jauh lebih besar dari bumi. Kita juga sering kali melihat bayangan benda-benda di sekitar kita dan merasa ia tidak bergerak. Namun sejam berikutnya kita menyadari bahwa sejatinya bayangan tersebut terus bergerak sedikit demi sedikit sesuai pergerakan matahari.
Lantas Al-Ghazali pun mempertanyakan: “Dari sisi manakah kita bisa mempercayai panca indra kita?
Argumen tentang Mimpi
Masih pada bagian keempat buku ini, Descartes menjelasakan bahwa pemikiran-pemikiran yang muncul saat kita sadar bisa sama meyakinkan dengan pemikiran yang muncul saat kita tidak sadar. Ia pun beranggapan bahwa segala hal yang muncul di pikirannya tidak lebih benar dari ilusi-ilusi yang ia dapatkan ketika ia bermimpi. Karena saat kita bermimpi, sering kali kita meyakini apa-apa yang kita pikirkan pada saat itu, sama yakinnya dengan saat kita sadar.
Kita juga menemukan pembahasan yang serupa pada kitabnya Al-Ghazali. Ia menjelaskan bahwa ia menemukan dirinya penuh kejanggalan ketika tidur. Ia menyampaikan: “Ketika tidur kamu meyakini apa-apa yang terjadi di pikiranmu sebagai sesuatu yang benar-benar nyata, tanpa keraguan sedikit pun. Lantas kau pun terbangun, lalu mengetahui bahwa apa yang kau bayangkan dalam mimpimu itu sama sekali tak berdasar.”
Prinsip Pokok yang Mirip
Pada bagian kedua dari bukunya, Descartes mengungkapkan empat prinsip yang selalu ia pegang dalam mengambil keputusan. Salah satunya adalah: Tidak pernah menerima apa pun sebagai sebuah kebenaran, kecuali sampai ia mengetahuinya secara jelas dan gamblang bahwa hal tersebut adalah benar.
Descartes bertekad untuk tidak mau terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu. Ia tidak mau memasukkan apa pun ke dalam pikirannya sampai hal tersebut benar-benar tampil amat jelas di kepalanya sehingga tak ada celah sedikit pun untuk meragukannya. Jika sedikit saja terbersit keraguan padanya, Descartes akan segera membuang pemikiran tersebut jauh-jauh.
Lagi-lagi, Al-Ghazali juga menyampaikan hal serupa. Pada awal kitabnya, Al-Ghazali menuturkan bahwa pengetahuan yang pasti benar adalah pengetahuan yang bisa menyingkap persoalan dengan sejelas-jelasnya sampai tak ada keraguan sama sekali. Pengetahuan yang masih menyisihkan ruang keraguan -sekalipun sedikit- adalah pengetahuan yang tidak dapat dipercaya.
Hasil Akhir yang Berbeda
Meski keduanya sama-sama betolak dari keraguan, kesimpulan yang mereka capai sangatlah berbeda. Descartes menggunakan keraguan sebagai metode dalam usahanya mencari kebenaran. Dan, dengan itu ia memperoleh kesimpulan bahwa dirinya benar-benar nyata setiap kali ia meragu (cogito ergo sum).
Sementara itu, Al-Ghazali memosisikan keraguan sebagai penyakit yang harus ia obati. Dan, pada akhirnya ia menemukan bahwa obat itu adalah Cahaya Ilahi atau tasawuf.
Meski pada tahap akhir ini, keduanya berbeda dalam mengambil ksimpulan, apa yang mereka lakukan untuk memerolehnya hampir-hampir mirip. Keduanya sama-sama memulai dari meragukan segala hal yang awalnya mereka yakini. Lalu disambung dengan argumen tentang mimpi, dan diakhiri dengan kesimpulan. Pola yang hampir mirip menurut kami.
Melihat pertalian tersebut sangat masuk akal mengapa banyak orang mengakui cerita tentang kitab bercatatan pinggir di perpustakaan Descartes. Sekali lagi, rentang masa yang berbeda dan kebudayaan yang jauh berbeda, seharusnya melahirkan corak pikir yang berbeda pula. Kemungkinan keduanya bisa bersatu pikir secara kebetulan sangatlah kecil, kalau tidak dibilang mustahil.
Banyaknya kecocokan yang ada pada dua karya tersebut semakin memperkecil kemungkinan hal tersebut muncul secara kebetulan. Memang hasil akhirnya berbeda. Tapi alur berpikir keduanya bisa dibilang identik. Yakni dimulai dari keraguan, lalu mimpi dan Kesimpulan.
Walhasil, orang-orang pun mulai berspekulasi dan mencari alasan yang lebih nyaman diterima akal, dari pada hanya sekadar kebetulan semata. Dan, asumsi bahwa Descartes telah terinspirasi dari Al-Ghazali adalah opsi paling rasional dan paling mudah dicerna.
Wallahu a’lamm…
