
Tradisi Klasik
Lagi-lagi, setelah lama vakum, pada tahun 1955 Pondok Pesantren Al Islamiyah bangkit kembali. Kali ini, yang menghidupkan pesantren Khadratul Walid. Setelah Khadratul Walid wafat, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh adiknya, Sayyid Agil bin Muhammad Ba`abud. Oleh Sayyid Agil, nama pondok diubah menjadi Pondok Pesantren Al Iman, dengan tujuan untuk bertafa`ulan dengan nama pondok pesantren yang diasuh Segaf Al-Jufry, tempat Khadratul Walid menuntut ilmu di Magelang. Di sana, memang ada madrasah yang bernama Al Iman. Nama itulah yang dipakai. Pada periode ini, di Pondok Al Iman juga mulai berdiri madrasah model klasikal, model formal tapi diniyah, dan berani memasukkan pelajaran umum, seperti bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Saat ini, Pondok Pesantren Al Iman dipimpin KH Habib Hasan Agil Ba’abud, putra dari Sayyid Agil.

Hingga era milenial ini, Pondok Pesantren Al Iman masih sangat menjaga tradisi ala pendidikan salaf. Memang sudah ada lembaga-lembaga pendidikan formal di dalamnya, seperti Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) dan Madrasah Aliyah (setingkat SMA), namun pengajaran kitab-kitab klasik tetap dipertahankan. Penekanan juga diberikan pada ngaji al-Quran dan ilmu-ilmu alatnya, seperti nahwu-sharaf. Kini, salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia yang ada di Desa Bulus, Purworejo, ini memiliki ribuan santri yang bersetia pada tradisi.

Maaf itu mungkin typo ya? Di paragraf kedua. Seharusnya “Purworejo” bukan “Purwokerto”.🙏