Vakum dan Bangkit Lagi
Asal usul Mbah Ahmad Alim tetap misterius hingga kini. Konon, Mbah Ahmad Alim dikenal sebagai seorang sufi dan masih keturunan Sunan Gresik. Namun, makamnya memang ada di Desa Bulus ini. Di sana tertera, Mbah Ahmad Alim meninggal pada 1 Jumadilakhir 1262 H/1842 M. Yang dikenang para penerusnya, Mbah Ahmad Alim sangat gigih bertirakat agar pesantrennya menjadi tempat penyemaian ilmu yang mumpuni. Ia selalu berpuasa dan bahkan pernah tirakat tapa pendhem selama 40 hari. Namun, kepada para santri dan keturunannya, Mbah Ahmad Alim justru berpesan untuk menjadi orang yang mulia tidak perlu melakukan tirakat macam-macam, cukup mengaji dengan sunguh-sungguh.

Sepeninggal Mbah Ahmad Alim, perjalanan pesantren yang dirintisnya mengalami pasang surut. Tak lama setelah Mbah Ahmad Alim meninggal, pesantren vakum karena para santri pulang ke daerah masing-masing, sementara keturunannya justru diperintahkan untuk meninggalkan Desa Bulus. Setelah lama vakum, pesantren itu akhirnya dihidupkan lagi oleh KH Raden Sayyid Ali. Sayyid Ali adalah menantu Mbah Ahmad Alim. Sebelum meninggal, Mbah Ahmad Alim memang berwasiat kepada Sayyid Ali untuk meneruskan perjuangannya dan memimpin pesantren. Sementara itu, anak-anak kandung Mbah Ahmad Alim, setelah keluar dari Desa Bulus, juga mendirikan pesantren, seperti Pondok Pesantren Maron, Solotiang, dan Al-Anwar Purworejo.
Sayyid Ali dipilih untuk meneruskan pesantren tersebut dengan beberapa pertimbangan, di antaranya karena dikenal cukup alim dan masih keturunan sayyid. Di tangan Sayyid Ali, pesantren ini mulai hidup lagi. Setelah Sayyid Ali meninggal kepemimpinan pesantren diteruskan oleh putranya, Sayyid Muhammad. Dan untuk kali pertama, Sayyid Muhammad mulai menerapkan sistem pendidikan klasikal di pesantren ini. Setelah Sayyid Muhamad wafat pada Jum`at 18 Sya`ban 1349 H/1930 M, perjuangan dilanjutkan oleh putranya, Sayyid Dahlan, yang memimpim pesantren pada kurun 1930 sampai 1938 M. Pada era Sayyid Dahlan inilah pertama kali dibuat lembaga pendidikan Islam di Purworejo, yang kemudian diberi nama Al Islamiyah. Nama ini pula yang akhirnya menjadi nama pesantren yang didirikan Mbah Ahmad Alim ini, Pondok Pesantren Al Islamiyah. Bahkan, saat itu, Sayyid Dahlan sudah berani menerapkan pembelajaran Bahasa Arab dengan menggunakan papan tulis, yang dianggap kontroversial.
Ketika Pondok Pesantren Al Islamiyah mulai berkembang pesat dan sudah bersentuhan dengan kemodernan, lagi-lagi pesantren ini harus menemui jalan berliku. Pada tahun 1938, Sayid Dahlan harus meninggalkan Desa Bulus atas permintaan Bupati Purworejo KRA Hasan Danoediningrat. Saat itu, Sayid Dahlan diminta mengisi posisi imam Masjid Kauman Purworejo. Ditinggalkan Sayid Dahlan, pesantren ini kembali kosong. Vakum. Saat itu, pondok ini dijadikan markas tentara Hizbullah dan Sabilillah yang akan perang melawan penjajajah Belanda.

Maaf itu mungkin typo ya? Di paragraf kedua. Seharusnya “Purworejo” bukan “Purwokerto”.🙏