Selaras seperti apa dijelaskan oleh guru kami tentang hebatnya keimanan yang dimiliki para pemuda ini hingga mencapai tingkatan yang sangat tinggi, sampai tiada yang lebih ditakutkan oleh mereka kecuali Allah. Mendengar penjelasan seperti ini, tentunya kami sebagai para santri dituntut untuk mengambil hikmah dari cerita tersebut guna memperkuat ideologi keimanan kita kepada Allah.
Sebagaimana juga dijelaskan guru kami, al-Ustadz Achmad Roziqi LC. M.HI, yang menyebutkan bahwa Hadratusysyaikh telah menggariskan kepada kami bahwa acuan dari pada ideologi yang kita ikuti sekarang adalah Asy’ariah, sebagai wujud dari manhaj ahl al Sunnah wa al Jama’ah. Lebih lanjut, lagi Hadratusysyaikh meletakkan penguatan ideologi ini dengan menjadikannya sebagai salah satu ilmu wajib yang harus dikuasai oleh seorang muslim.

Kedua, adalah cerita seorang miliader yang berakhir bangkrut dan menjadi sangat sengsara lantaran kesombongnnya dan keingkarannya pada nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya. Dari cerita ini, hikmah yang bisa diteladani oleh kami para santri adalah bahwa seorang santri boleh menjadi kaya, tetapi harus tetap memegang etika, akhlak, dan ideologi fikihnya.
Yakni, bagaimana dengan memegang akhlak yang baik, santri diharapkan agar tidak congkak dan tetap rendah hati ketika memiliki kekayaan, sehingga tidak menjadikannya sombong. Begitu pula dengan ideologi fikihnya, yaitu dengan tetap menggunakan harta yang dimilikinya sesuai dengan syariat Islam. Hal ini sebagaimna disampaikan oleh Hadratusysyaikh dalam kitabnya Adab al-Alim wa al Muta’allim, agar tidak ada ketergantungan dengan harta, maka perasaan memiliki harta yang melimpah itu harus ditiadakan.
