Dalam sambutannya, Busyro mengatakan bahwa ciri-ciri masyarakat Qur’ani harus selalu menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari. “Dalam kitab tafsir Nur Karim yang saya susun, di dalamnya tercermin ciri-ciri masyarakat Qur’ani, salah satunya berakhlakul karimah. Itu harus selalu menjadi pegangan bagi kita semua,” tutur kiai yang pernah menjabat sebagai orang nomor satu di Kabupaten Sumenep itu.
Lebih lanjut, Kiai Busyro mengharapkan dua puluh satu santriwati hafidzat (penghafal) agar selalu memegang dua hal. “Kepada seluruh yang diwisuda malam ini, jaga dua hal ini. Pertama, murajaah, selalu menjaga hafalan. Kedua, tetap selalu berakhlakul karimah di manapun berada,” tegasnya dalam sambutannya tersebut.

