Al-Qur’an dan Tantangan Masa Depan

Dengan begitu, apakah ayat-ayat yang berbicara tentang milkul yamin tidak lagi “relevan” dengan perkembangan zaman karena ketiadaan hukumnya? Nah, inilah pentingnya memahami Al-Qur’an tidak hanya sebagai kitab (:ketetapan hukum), tetapi juga, mengutip istilah yang digunakan oleh Fazlur Rahman, sebagai kitab yang berisi spirit moral.

Jika hanya dipahami hanya sebatas kitab hukum, maka sesungguhnya terdapat banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang tidak relevan lagi saat ini. Sebab, adanya perbedaan yang cukup tajam antara konteks saat turunnya ayat dengan konteks persoalan masa kini. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pemahaman Al-Qur’an secara utuh —dan agar sesuai dengan perkembangan zaman— seorang mufasir mesti menangkap apa yang menjadi spirit moral dalam suatu ayat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Berbicara tentang ayat milkul yamin tersebut, misalnya, bila ditinjau melalui kaca mata spirit moral; maka akan didapati bahwa sesungguhnya ayat tersebut berbicara tentang kesetaraan manusia. Pada masa itu, pandangan ayat ini bisa dikatakan terlampau progresif. Sebab, melawan arus utama yang berlaku pada saat itu, yakni adanya kesenjangan yang sangat merosot antara budak dengan majikan atau manusia merdeka. Padahal, secara hakikat, keduanya merupakan sama-sama makhluk yang diciptakan Tuhan.

One Reply to “Al-Qur’an dan Tantangan Masa Depan”

Tinggalkan Balasan