Al-Hamidiyah, Pelabuhan Terakhir Kiai Sjaichu

Dunia politik tidak membuat semangat dakwah Kiai Sjaichu meredup. Justru, politik dijadikan jalan dakwahnya. Maka, pada 31 Agustus 1978, Kiai Sjaichu mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang dakwah, yaitu Ittihadul Muballighin. Lembaga inilah yang pada akhirnya mengantarkan Kiai Sjaichu menuju terminal pengabdian terakhirnya, yaitu dunia dakwah dan pesantren. Terbukti, pada pada 17 Juli 1988, Kiai Sjaichu mendirikan Pondok Pesantren Al-Hamidiyah di daerah Depok. Sebuah warisan yang menunjukkan perjalanan panjang dakwah Kiai Sjaichu, yang bermula dari pesantren dan berakhir juga di pesantren. Kiai Sjaichu wafat pada 1995.

Pelabuhan Terakhir

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Boleh dibilang, Pesantren Al-Hamidiyah merupakan penutup perjalanan panjang atau pelabuhan terakhir Kiai Sjaichu, sejak ia meninggalkan Pesantren Al-Hidayat, Lasem Rembang hampir 40 sebelumnya. Ceritanya, pada 1980, Kiai Sjaichu membeli sebidang tanah di daerah Sawangan, Depok. Namun, karena keterbatasan dana, Pesantren Al-Hamidiyah baru bisa didirikan tujuan tahun kemudian, persisnya pada 31 Agustus 1987. Peletakan batu pertamanya dilakukan olej Menteri Agama H Munawir Sjadzali. Nama Al-Hamidiyah dinisbatkan pada nama sang ayah, H Abdul Hamid. Pesantren Al-Hamidiyah kemudian dimasukkan dalam daftar unit kerja di lingkungan Yayasan Islam Al-Hamidiyah.

Sebelum wafat, Kiai Sjaichu mewakafkan Pesantren Al-Hamidiyah kepada Yayasan Islam Al-Hamidiyah untuk tujuan nasyrul ilmi (pengembangan ilmu) dan pembinaan umat. Dengan demikian, yang bertanggung jawab atas kelangsungan dan pengembangan pesantren demi terwujudnya cita-cita Kiai Sjaichu adalah Yayasan Islam Al-Hamidiyah (YIA).

Tinggalkan Balasan