Contoh sederhananya adalah Sunan Kalijaga dengan tembang Lir-Ilir. Jika Islam pada masa itu, yang hadir ketika ajaran Hindu-Budha masih mengakar sangat kuat, disebarkan secara mentah-mentah melalui penyampaian syariat dengan mengatakan “ini boleh” atau “itu haram”, mungkin sama halnya menjadi tindakan bunuh diri.
Akan tetapi, Sunan Kalijaga dapat dengan cerdik menyampaikan sebuah gagasan dakwah tanpa harus berbenturan dengan ajaran Hindu-Budha. Lagu Lir-Ilir adalah suatu tembang dolanan, yaitu tembang yang biasanya dinyanyikan oleh anak-anak sebagai media bermain. Akan tetapi, tembang tersebut juga diterima di kalangan dewasa dan tingkatan umur lainnya. Bahkan, hingga saat ini, tembang tersebut masih bertahan di tengah gempuran zaman.

Melalui Lir-Ilir, Sunan Kalijaga menyampaikan makna keislaman yang terselubung di setiap celah baitnya. Tembang tersebut, walaupun dari luar hanya tampak seperti lagu berbahasa Jawa biasa, menyimpan makna tentang rukun Islam, muhasabah, pertaubatan, dan persiapan hidup sebelum ajal (Khasanah, 2022).
Jika Sunan Kalijaga dengan segala kesederhanaan di era itu berhasil menyebarkan Islam secara luas melalui alih wahana, mengapa kita tidak?
Alih wahana pada masa ini, alih-alih memindahkan ajaran Islam kepada media seni lainnya, akan lebih mudah jika memanfaatkan teknologi digital. Di luar bidang dakwah, metode seperti telah menunjukkan banyak keberhasilan.
Pengalihwahanaan novel ke film, manga ke anime, atau cerpen ke film pendek, sudah menjadi hal yang masif dilakukan. Bumi Manusia, salah satu mahakarya terbesar Pramoedya Ananta Toer, adalah salah satu contohnya.
Jika Anda ingin tahu seberapa besar pengaruh alih wahana terhadap menyebarluasnya Bumi Manusia, bandingkan saja antara berapa banyak eksemplar buku fisiknya dengan tiket filmnya yang terjual.
Selama tahun pertama penerbitan Bumi Manusia pada 1980, Hasta Mitra selaku penerbit berhasil menjual novel tersebut sebanyak 10.000 eksemplar. Hingga saat ini, Bumi Manusia menjadi saah satu novel Indonesia terlaris dengan angka penjualan lebih dari 500.000 eksemplar. Tentu angka yang sangat fantastis.
Akan tetapi, jumlah tersebut ternyata belum ada apa-apanya dibandingkan versi film. Bayangkan saja, baru dua minggu tayang di bioskop, Bumi Manusia berhasil menembus satu juta penonton dan langsung naik ke posisi sembilan film Indonesia terlaris tahun 2019. Coba bandingkan, satu tahun dengan dua minggu dan 500.000 dengan 1.000.000. Jika bukan karena alih wahana, mana mungkin perbandingannya bisa sejauh itu.
Tentunya dakwah Islam juga harus optimis bisa mencapai keberhasilan serupa. Mungkin bisa berawal dari hal kecil terlebih dahulu dengan memperlakukan teknologi bukan sebagai “setan” yang mutlak harus dijauhi karena mudharatnya. Akan tetapi, teknologi pasti banyak memberikan manfaat jika digunakan secara bijak. Reels Instagram dan siraman rohani WhatsApp bisa menjadi contohnya.
Contoh lain lagi, mungkin jika Anda adalah seorang penceramah, maqolah yang Anda sampaikan hanya akan didengar oleh jemaah dalam suatu majelis dengan jumlah yang terbatas. Itu pun harus menghadapi sebuah tantangan masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Namun, jika Anda mengalihwahanakan ceramah ke dalam bentuk reels atau pesan singkat WhatsApp, umur maqolah Anda akan semakin lama dan bisa menjangkau lebih banyak khalayak. Selain itu, jejak digital juga bisa membuat khalayak mempelajarinya secara berulang-ulang sehingga apa yang ditangkap oleh kuping kanan kemudian langsung bablas keluar dari sisi lainnya dapat diminimalisir.
