Selain itu, digitalisasi seperti contoh di atas juga lebih efektif dan efisien. Contoh simpelnya bisa dilihat dari majelis-majelis pengajian. Mendatangi majelis pengajian yang jaraknya sangat jauh tentu menjadi satu halangan tersendiri. Kita harus menempuh jarak yang sebegitu jauhnya untuk sampai ke sana. Belum lagi biaya dan risiko selama perjalanan.
Akan tetapi, jika pihak penyelenggara juga menyelenggarakan majelis pengajian tersebut lewat siaran langsung di YouTube, tentu akan menjadi sebuah keuntungan bersama. Di satu sisi, penyelenggara akan menjangkau jemaah yang lebih banyak. Di sisi yang lain, kita hanya tinggal duduk manis di rumah, menyiapkan kuota internet yang cukup, memakai pakaian yang sopan, hingga akhirnya bisa mengikuti majelis tersebut tanpa harus menginjakkan kaki jauh-jauh.

Selain itu, alih wahana lewat reels, short, ataupun video-video pendek lainnya yang eksis di media sosial juga memperlihatkan potensi yang besar untuk dakwah. Fenomena yang umum terjadi adalah sebuah video ceramah dipotong sedemikian rupa sehingga hanya menampilkan bagian tertentu saja. Seringkali hanya bagian lucu yang ditampilkan.
Tentu, jika video-video pendek itu dijadikan rujukan dalam beragama, rasanya sangat kurang sekali. Akan tetapi, video seperti itu bisa mengambil peran lainnya, yaitu sebagai media promosi. Banyak sekali anak muda zaman sekarang, tidak hanya dari kalangan santri, yang menyukai penceramah-penceramah lucu yang video pendeknya sering berseliweran di media sosial. Dari situ, mereka akan tergerak untuk mencari lebih dalam lagi siapa penceramah itu dan pada akhirnya tidak menutup kemungkinan mereka bisa mendengar kajiannya yang lebih utuh.
Pada akhirnya, jika dirangkul dengan baik, teknologi dapat menjadi senjata yang ampuh bagi penyebaran ajaran Islam. Jika Sunan Kalijaga dan para wali mampu memanfaatkannya, tentunya dengan kemodernan seperti sekarang ini, kita harus lebih mampu lagi. Dan untuk masa depan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, memasang fondasi sejak hari ini adalah langkah yang tepat.
Rujukan:
Ema Fidiatun Khasanah, Y. I. (2022). Nilai-Nilai Keislaman pada Tembang Lir-Ilir Karya Sunan Kalijaga. Jurnal Pendidikan Islam dan Isu-isu Sosial, 13-25.
Lukluk Ainiyah, K. H. (2019). Analisis Makna Religiusitas dan Makna dalam Tembang Pangkur Sunan Drajat. Jurnal Kajian Bahasa dan Sastra, 81-92.
Nasional, R. S. (2024, November 8). Lifestyle. Retrieved from SuaraNasional.id: https://www.suaranasional.id/2024/11/5-novel-terlaris-di-indonesia-sepanjang-masa-berikut-angka-penjualannya.html
Ummah, S. R. (2024). HARMONI WARNA DAKWAH: Merunut Jejak Seni sebagai Medium Dakwah yang Abadi. Jurnal Dakwah dan Komunikasi Fahmuna, 33-48.
