Perjuangan TGH Abbas kemudian dilanjutkan oleh putra beliu bernama TGH Manshur Abbas yang lahir pada 1912 dengan nama kecil Lalu Badrun alias Haramain. TGH Manshur Abbas sudah dititipkan oleh ayahandanya di pesantren asuhan TGH Sholeh Hambali bengkel yang terletak di Desa Bengkel, Lombok Barat sejak berumur enam tahun, yakni 1918 hingga 1935. TGH Saleh Hambali sendiri adalah sahabat TGH Abbas sekaligus ulama kharismatik dan berpengaruh di Pulau Lombok.
Setelah mendapatkan baiat dari gurunya untuk menyebarkan serta memperkenalkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, maka mulailah TGH Manshur bersama ayahnya berkeliling ke beberapa desa di daerah Lombok selatan. Dakwah ini terus dilakukan, hingga ketika tahun 1953, TGH Manshur Abbas mendapatkan restu oleh gurunya (TGH Saleh Hambali Bengkel) untuk memperkenalkan jamiyah Nahdlatul Ulama di daerah tersebut.

Sebagai implementasi dari keberhasilan beliau menyebarkan Islam an Nahdliyah dan melanjutkan perjuangan TGH Abbas, maka beliau mendirikan Madrasah Ibtidaiyah yang diberi nama MI Almanshuryah Ta’limushibyan yang di mana, nama Almanshuryah dinisbatkan kepada beliau sendiri, TGH Manshur Abbas.
Pondok pesantren ini adalah satu-satunya lembaga pendidikan di Lombok selatan pada saat itu. Keberhasilan Pondok Pesantren Almanshuryah pada saat itu, bisa dilihat dari masyarakat yang tersebar di 27 desa dan 4 kecamatan yang mulai mengenal dan menuntut ilmu di pondok pesantren ini serta menitipkan anak didik mereka untuk memperdalam ilmu agama.
Pondok Pesantren Almanshuryah Ta’limushibyan yang sejak awal didedikasikan untuk memperbaiki tata ibadah atau keagamaan dan sosial masyarakat melalui sprititual approach ini, berhasil menjadi ikon perjuangan pembangunan lebih 30 tempat ibadah di 27 desa yang berada di Lombok bagian selatan.
Pesantren ini menemukan titik kejayaan ketika putra TGH Manshur Abbas, yakni TGH. Ahmad Taqiuddin Manshur mengambil tampuk kepemimpinan. TGH Ahmad Taqiuddin mampu mengembangkan pesantren yang semula hanya memiliki Madrasah Ibtidaiyah menjadi pesantren besar dan memiliki lembaga pendidikan dari TK hingga Perguruan Tinggi.
Mengingat kebutuhan yang mendesak dan potensi yang perkembangan semakin pesat, maka pada 1983, TGH Ahmad Taqiuddin Manshur mencetuskan berdirinya Madrasah Tsanawiah Al Ma’arif NU Taklimushibyan. Kemudian pada 1987 berdiri Madrasah Aliyah diikuti dengan berdirinya SMA, SMK, SMP, yang semua diserahkan pengelolaannya ke LP Maarif NU, berupa dua bangunan masjid, perpustakaan ATQIA tiga lantai, serta Kampus 2 Universitas Nahdlatul Ulama(UNU NTB) pun berada di pesantren ini.
