Lembaga-lembaga pendidikan tersebut berjalan sesuai peraturan pemerintah dan diakui oleh negara sebagai salah satu pendidikan yang memiliki legitimasi sebagai sarana pendidikan yang representatif di daerah selatan. Adapun, sarana prasana serta berbagai persyaratan telah memenuhi standar sebagaimana yang diatur oleh pemerintah melalui Departemen Agama maupun Dinas Pendidikan Nasional. Sehingga sampai detik ini, alumni Pondok Pesantren Almanshuryah telah mencapai ribuan. .
Pada 1992, sentuhan dan pengabdian TGH Manshur Abbas untuk Islam di Lombok selatan pun berakhir. Bertepatan pada 2 Januari 1992 beliau wafat pada usia 82 yang pada saat itu beliau masih berstatus sebagai a’wan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU NTB). TGH Manshur Abbas meninggalkan 2 orang istri dan 10 orang putra putri. Meskipun ditinggal oleh pengasuh pertama, Pondok Pesantren Almanshuryah di bawah kepemimpinan TGH Ahmad Taqiuddin Manshur secara bertahap, terus melakukan perbaikan sumber daya dan fasilitas yang memadai. Sehingga tidak aneh jika masyarakat Pulau Lombok khususnya Lombok Selatan dan luar pulau banyak yang menjadikan pondok yang berdiri di atas tanah seluas 50.000 m2 ini sebagai tujuan menuntut ilmu.

Pengaruh yang kuat dari TGH Ahmad Taqiuddin Manshur yang pada saat itu menjadi Ketua Umum Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) membuat pondok ini memiliki relasi yang kuat di tingkat nasioanal. Seringkali pondok ini dijadikan tempat penyelengaraan acara tingkat nasional seperti, Pra-Muktamar NU ke-33, RAKERNAS NU, Musyawarah Alim Ulama, peresmian Bank Wakaf Mikro ATQIA yang dihadiri oleh Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin dan masih banyak acara nasional lainnya.

Pada Rabu, 10 Oktober 2018, Pondok Pesantren Almanshuryah kembali berduka setelah TGH Ahmad Taqiuddin, Pengasuh Kedua Pondok Pesantren Almanshuryah yang sekaligus menjadi Ketua PWNU ini, mengembuskan napas terakhir pada umur 65 tahun. Beliau meninggalkan nama baik sebagai sosok yang istiqomah serta ikhlas dalam berjuang untuk masyarakat dan NU baik melalui lembaga pendidikan maupun pesantren. Di samping itu, beliau meninggalkan 2 istri dan 4 orang putra putri. Kepemimpinan pondok pesantren pun dipegang oleh istri beliu, yakni Dr Baiq Mulianah yang sekaligus menjadi Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU NTB).

Kini, total santri Pondok Pesantren Almanshuryah Ta’limushibyan sudah mencapai sekitar 3000 santri, baik yang pulang pergi maupun bermukim di pesantren, karena tidak semua santri mondok di kompleks pesantren. Banyak santri yang berasal dari sekitar pondok tetap tinggal di rumah masing-masing.
