Itulah sebabnya kita perlu memberikan penafsiran yang mampu menandingi argumen para pejuang skeptisisme. Pertama, terbukti bahwa di dunia materiil ini, ada sesuatu yang imateriil. Sebut saja rasa sakit; seorang skeptis akan merengek kesakitan jika wajahnya dipukul dengan keras. Jika kita bertanya kepadanya di manakah letak rasa sakit, ia tidak bisa menjawab dengan pasti. Jika ia masih mampu menyangkal dengan merujuk pada psikologi behavioristik, maka kita bisa menyajikan argumen yang lebih konkret; dasar dari ilmu pengetahuan ialah konsep-konsep matematika, di sana ada fisika kuantum, aritmatika, yang telah terbukti kebenarannya.
Jika setiap eksperimen dibimbing oleh rumus-rumus dasar dan aksioma matematis seperti ini, maka mau tidak mau ia harus meyakini adanya suatu entitas abstrak dan imateriil seperti eksistensi rumus ini.

Setelah kita meyakinkan para skeptis bahwa terdapat hal-hal imateriil di dunia, kita bisa masuk ke premis berikutnya; manusia memiliki sisi immaterial, yaitu jiwa. Ini tentu adalah premis yang diyakini kebenarannya bahkan dalam ajaran teologi yang paling dasar, sebut saja, teologi anak SD. Apakah dengan mendalilkan adanya jiwa, kita bisa memberi penafsiran alternatif terhadap sabda Rasulullah tersebut?
Dalam ajaran teologis Islam, manusia terdiri dari jiwa dan badan, dan ketika badan manusia telah sirna, jiwanya tetap menjalani kehidupannya di akhirat sana. Ini adalah penafsiran metafisikanya. Adapun, secara sosial, kita secara umum percaya bahwa ada sisi dari manusia yang tidak bisa dikaitkan dengan kenyataan badaninya. Kita percaya ada sifat manusia, dan kita percaya bahwa kondisi fisik manusia tidak selalu berhubungan dengan sifat ini; misalnya, tidak benar bahwa seseorang dengan karakter tertentu niscaya disebabkan oleh berat badan tertentu. Sifat manusia adalah unsur dari manusia yang terpisah dari badannya.
Unsur lainnya dari seorang manusia ialah nama, manusia ialah makhluk yang hidup dengan ingatan-ingatan, khayalan, dan pikiran. Itulah kenapa nama bisa hidup terus menerus setelah kematian seseorang; ia hidup karena diingat oleh orang lainnya.
