Amplop Kiai

Sekitar tahun 2023, beberapa kali saya sowan ke ndalem KH Said Aqil Siradj, yang ketika itu sudah tidak menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Jika berada di ndalem, kediaman Kiai Said tak pernah sepi dari tamu.

Suatu malam, saya ikut meriung dengan belasan tamu di teras ndalem Kiai Said. Mungkin karena kebiasaan saat masih menjadi wartawan, mata saya tak pernah mau diam. Selalu mengikuti tiap detail peristiwa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saya melihat, ada tamu dari Cibaduyut, Bandung, yang datang membawakan oleh-oleh sepatu buat Kiai Said. Saya melihat, wajah Kiai Said bungah ketika mencobanya. Ada tamu dari mana lagi, entah nama kotanya saya lupa, mengundang Kiai Said untuk hadir dalam sebuah acara.

Tamu lain lagi sekadar ngobrol ini-itu, lalu ikut mendengarkan obrolan lain lagi, dan ketika salaman berpamitan, menyelipkan amplop ke tangan Kiai Said. Tanpa melihat isinya, Kiai Said menyurukkan amplop itu di bawah taplak. Menjelang tengah malam, beberapa tamu yang datang dari Lampung berpamitan, sambil membisikkan sesuatu yang sulit didengar.

Tanpa melihat apa yang diambil, tangan Kiai Said meraih amplop dari bawah taplak, lalu menyerahkannya kepada tamu dari Lampung itu. Amplop itu tak sempat bermalam di ndalem Kiai Said. Bahkan belum sempat diintip isinya. Amplop itu datang dari seorang tamu, lalu berpindah ke tangan tamu lain.

**

Pada tahun 1980-an saya pernah tinggal di salah satu pondok pesantren di Jember, Jawa Timur. Kiai saya selalu berjubah putih, dengan dua kantung saku besar di sisi kanan dan kiri. Ketika banyak tamu, dua kantung itu penuh sesak. Apalagi isinya kalau bukan amplop atau uang dari apa yang secara guyonan sering disebut sebagai “salam tempel”.

Digunakan untuk apa sih uangnya yang, menurut saya ketika itu, sebegitu banyak? Karena ketika itu rumah kiai tak berubah atau bertambah. Mobilnya tetap satu, Toyota tua yang sering mogok.

Tapi setahu saya, makin hari jumlah bangunan pesantren makin banyak, fasilitas makin lengkap. Tiap malam Jumat, ratusan jemaah manaqib, usai zikir, diberi makan tanpa kecuali. Belum lagi jika tiba malam Jumat Legi, jumlah jemaah manaqibnya bisa mencapai ribuan. Dan semuanya disuguhi makan, tanpa kecuali.

Lama kemudian saya baru sadar, semua itu rupanya dibiayai dari apa yang sering disebut “salam tempel” itu. Uang-uang itu terus berpindah dari tamu ke tamu.

Tinggalkan Balasan