Amplop Kiai

**

Pada masa kanak-kanak sampai menjelang remaja, saya masih tinggal di kampung halaman, ujung paling timur dari Pulau Jawa. Di desa saya ada seorang kiai dengan panggilan Mbah Mangil. Banyak orang menyebutnya sebagai wali jadzab.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meskipun punya pesantren, Mbah Mangil malah tak pernah ngurusi ngaji para santri. Ada guru atau santri senior untuk tugas itu. Sehari-hari Mbah Mangil malah cuma keluyuran dengan berjalan kaki. Hanya bersarung dan berkaus oblong. Sesekali berpeci, kadang hitam kadang putih.

Salah satu kebiasaan Mbah Mangil ketika keluyuran adalah mencegat seseorang, lalu orang itu dimintai uang atau disuruh membelikan ini-itu. Tapi uang-uang itu tak pernah lama di tangan Mbah Mangil. Kadang diberikan kepada siapa saja yang kebetulan berpapasan dengannya. Kadang diberikan kepada orang yang sengaja didatanginya. Orang yang disuruh membelikan ini-itu seringkali juga langsung diminta mengantarkan barangnya kepada orang lain, entah barang itu dibutuhkan atau tidak.

Yang menarik, orang-orang di desa saya justru banyak yang menunggu momen itu: kapan saya dimintai uang oleh Mbah Mangil? Kapan saya disuruh-suruh oleh Mbah Mangil? Sebab, momen seperti itu bagi mereka adalah berkat.

**

Trayektori amplop kiai dari masa ke masa itu ternyata tak berubah. Ia telah menjadi tradisi, telah membudaya, dalam masyarakat kita. Dan kiai, dalam hal ini, sebagai brokernya. (Dengan catatan: amplop-amplop itu datang dari masyarakat, bukan fee proyek.)

Dalam studi ilmu-ilmu sosial, Clifford Geertz dan Hiroko Horikoshi menyebutnya sebagai cultural broker. Kiai dalam lanskap masyarakat Nusantara dipotret sebagai perantara budaya.

Sebagai cultural broker, kiai akan berperan menjadi penyaring masuknya budaya luar, lalu memilih untuk disesuaikan dengan tradisi lokal. Karena itu, sekaligus ia sebagai pengemban dan pengembang tradisi dalam masyarakatnya. Di situ, posisi kiai tetap menjadi penyeimbang antara modernitas dan tradisiolitas. Malah, bisa jadi mungkin bukan cuma sebagai cultural broker, sekaligus kiai juga menjadi economical broker. Problem-problem ekonomi masyarakat bisa diperantarai melalui peran seorang kiai.

Amplop kiai, yang muncul dari “salam tempel” dan terus berpindah tangan itu, juga harus dibaca dan dimaknai dalam kerangka itu. Bukan “si miskin memberi kepada si kaya”. Sebab, uang itu bukan untuknya, bukan untuk kepentingan pribadinya. Mungkin ada satu-dua yang untuk kepentingan pribadi, tapi itu sangat kasuistik sifatnya. Lensa akuntansi tidak bisa memotret fenomena ini.

Tinggalkan Balasan