Angkasa yang Merindukan Bintang

Tiba-tiba kudengar teriakan klakson yang memekakkan telinga.

“Bin!!!” aku menjerit sekencang-kencangnya ketika melihat ada pengendara sepeda motor yang menyalip mobil angkot itu dengan kecepatan seperti pembalap. Seketika adikku terpelanting jauh ke tepi badan jalan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Bintang!!” seruku panik. Aku dan Rania berlari menuju Bintang, tapi terlambat. Bintang telah terkapar bersimbah darah yang ditingkahi air hujan. Sedangkan tidak jauh darinya pengendara sepeda motor itu jatuh tertindih sepeda motornya sendiri.

“Bintang!” aku tak berhenti memanggil namanya. Darah segar mengalir di hidung serta dahi Bintang. Segera tubuhnya bercampur dengan air hujan yang turun semakin deras. Seragamnya berlumuran darah. Matanya terpejam. Aku menepuk-nepuk pipinya, berharap dia sadar. Akhirnya, dia membuka sedikit matanya, lantas tersenyum.

“Bukan kita yang pulang Kak Ang, tapi aku,” ujarnya dengan suara lemah. Suaranya terbata-bata. Aku menelan ludah berkali-kali untuk menelan kecemasan. Di sampingku, Rania sudah menangis sambil memegang bahu Bintang. Air matanya bercampur dengan air hujan.

“Tidak, kamu harus bertahan.” Aku menggengam tangannya yang semakin dingin.

Dia tersenyum menahan rasa sakit. “Kamu temani emak ya, Kak. Aku akan segera menyusul bapak. Tetaplah semangat menjalani kehidupan.”

Bintang tersenyum lagi. Dan detik berikutnya deru napas gadis cantik itu hilang bersamaan dengan senyumnya yang terakhir kali. Aku menangis sejadi-jadinya. Perpisahan ini sangat aku takutkan. Semoga ini hanya mimpi. Akan tetapi ketika kucubit tanganku, aku merasakan sakit. Apa yang terjadi di depan mataku ini ternyata nyata belaka. Tapi apa hendak dikata, ternyata Allah lebih sayang kepada Bintang. Allah menjemputnya lebih dulu daripada diriku. Hancur sudah hatiku. Sang pelipur lara itu kini telah tiada. Dan tak ada lagi yang bisa kuharapkan selain pengampunan Tuhan untuknya. Semoga senyum itu menjadi bukti keridaan-Nya. Aku masih ingat kata-kata Pak Zainal saat pelajaran akidah akhlak waktu itu, bahwa senyum di ujung kematian adalah sebagian dari tanda husnul khotimah. Semoga saja. Amiin.

* * *
Setiap ingatan itu muncul aku merasakan penyesalan yang menyesakkan dada. Hal itu yang membuatku selalu merasa gundah gulana saat bertemu dengan hujan. Di halte yang sama dan suasan hujan yang sama, namun kenangan bersamanya tak mungkin lagi bisa terulang. Semua telah berubah. Tak terasa mataku tiba-tiba telah basah oleh air mata. Tanganku bergetar saat mengusapnya. Yaa Allah, mengapa peristiwa itu dulu terjadi? Hamba sangat rindu padanya. Hari-hari menjadi lebih suram tanpanya. Kusandarkan kepalaku di tiang halte, berharap ingatan tentangnya akan segera lenyap, agar jiwaku tidak lagi dirajam oleng sengsara.

Tiba-tiba kudengar kecipak air yang terinjak oleh langkah kaki seseorang. Aku segera tergeragap bangun.

“Lagi nunggu angkot Ang?” tanya orang itu, yang ternyata adalah Rania.

“Iya Ran,” tukasku singkat. Kuusap air mataku dengan telapak tangan.

“Kamu lagi nangis Ang?”

Aku biarkan pertanyaannya itu dijawab oleh rinai hujan.

“Aku tahu apa yang ada di pikirkanmu. Di tempat ini, hujan turun saat menunggu angkot untuk pulang, pasti kau ingat Bintang. Memang ini berat untukmu Ang. Tapi tak baik untukmu terus-terusan larut dalam kesedihan. Kasihanilah ibumu yang kini sendirian. Kamu harus tumbuh menjadi lelaki yang kuat. Jangan meredup walau sudah tak lagi ada bintang. Kita mesti ingat Ang, Bintang hanya hilang fisiknya di dunia. Tapi dia tidak benar-benar meninggalkan kita. Dia tidak akan pernah hilang dari hati kita.”

Aku mencoba memahami ceramah Rania, karib Bintang yang juga anak pesantren itu. Dia memang berperangai dewasa, paling bijak dalam bersikap di antara kami sekelas. Ucapan-ucapannya mampu mengalirkan ketenangan. Aku coba pahami lagi ucapannya tadi. Memang benar, Bintang tidak pernah hilang dari hatiku. Dia akan selalu ada. Dan aku masih ingat kata-kata Bu Nizmah saat mengakhiri pelajaran kala itu, “Jangan gelisah karena berpisah dengan orang yang kamu cintai dalam dunia ini, tapi bersedihlah jika nanti kalian tidak bisa saling bersua di dalam surga.”

Aku lantas membuka resleting tas. Kuambil amplop yang kini telah lusuh pemberian Bintang kala itu.
[Terima kasih, Kak. Teruslah menjadi angkasa yang gagah. Dalam jeritan-jeritan hidup dan keluh kesahku yang payah, ada lapangnya dadamu yang menjadikanku tabah. Teruslah ada Kak, tanpamu aku tak akan bercahaya. Semoga Allah mengumpulkan kita di surga-Nya. Amin.]
[Bintang.]

Tinggalkan Balasan