“Woy, anjay… Keren abis ini, gais…”
Itulah beberapa penggalan percakapan anak saya dengan sejumlah teman sekolahnya. Akhirnya saya paham, kata-kata memang seperti air. Dibendung dari sisi mana pun, ia akan merembes, mencari jalannya sendiri. Di rumah, pengenalan dan penggunaan diksi boleh dibatasi. Tapi di luar rumah, di sekolah, atau di lingkungan sosialnya, anak-anak selalu punya caranya sendiri untuk mengenal dunianya, mengenal bahasanya.

Maka terasa menggelikan bila akhir-akhir ini orang ramai ada yang memperkarakan munculnya kata “anjay”, dan meminta pengucapnya untuk dipidana. Konon, karena “anjay” telah menjadi media perundungan (bullying).
Kita tahu, bahwa “anjay” adalah “cucu” dari kata “anjing”. Kata “anjing” ini “bermutasi” menjadi “anjrit”, dan tak lama kemudian menjadi “anjay”. Apakah diksi “anjing” ini selalu identik dengan penghinaan atau penistaan? Mungkin. Tapi di daerah tertentu, dengan konteks dan motif tertentu, ternyata tidak juga. Apalagi, padanannya, “asu”, di beberapa daerah dan dalam konteks tertentu justru menjadi penanda keakraban.
Diksi itu memang tetap terasa kasar meskipun sebagai media bercandaan. Karena itulah generasi milenial akhirnya “berkreasi” dan lahirlah “anjrit” dan “anjay”. Dengan “mutasi” ini generasi milenial mencoba menghilangkan motif penghinaan atau penistaan dan kekasaran dari diksi “anjing”. Karena itu, “anjrit” dan “anjay” lebih berasosiasi dengan penanda keakraban atau bahkan ketakjuban.
Jika penggunaan kata “anjay” harus dilarang dan pengucapnya dipidana, bagaimana dengan “jancuk” dan “celeng”, misalnya. Di Jawa Timur, dan terutama di Surabaya, “jancuk” adalah makian dan sekaligus penanda keakraban. Seseorang bisa memaki, mengumpat, atau menghina orang lain dengan kata itu. Tapi, dalam derajat yang sama, seseorang akan merasa menjadi bagian dari komunitasnya setelah dipanggil dengan kata itu: cuk!
Kita tahu, celeng adalah sebutan untuk babi hutan. Tapi bagi orang Osing di Banyuwangi, diksi itu telah menjadi sebutan untuk sesamanya. Konon, itu dimulai di zaman perang puputan. Perang membuat orang Osing tercerai-berai. “Celeng” kemudian dijadikan “kata sandi” (keyword) saat mereka bertemu dan berkumpul kembali dan untuk membedakannya dari musuh. Hingga saat ini, kata “celeng” itu telah menjadi media tegur sapa penuh keakraban di kalangan orang Osing. Anda belum akrab dan belum diakui sebagai bagian dari komunitas Osing sampai saat Anda dipanggil: celeng riko!
