Sementara itu, pada depresi yang terganggu adalah sistem motivasi dan energi otak. Aktivitas neurotransmitter seperti serotonin dan dopamine mengalami penurunan.
Dampaknya kemampuan otak untuk merasakan harapan, kepuasan, dan dorongan menjadi berkurang. Tubuh terasa berat, konsentrasi melemah, dan melakukan aktivitas apapun terasa menguras tenaga, termasuk ibadah. Ketika seseorang dengan depresi mengatakan bahwa dirinya tidak sanggup beribadah, pernyataan tersebut mencerminkan kondisi biologis dan neurologis yang sedang terganggu, bukan sematakarna kelemahan iman.

Psikologi memandang anxiety dan depresi sebagai gangguan yang melibatkan pikiran, emosi, dan perilaku. Anxiety membuat pikiran dipenuhi rasa kekhawatiran yang berulang dan sulit dikendalikan. Emosi menjadi tegang dan gelisah, sementara perilaku cenderung pada penghindaran atau overthinking.
Dalam konteks ibadah, kondisi tersebut sering muncul dalam bentuk sulit untuk khusyuk, rasa takut yang berlebihan bahwa ibadah tidak sah, atau perasaan merasa kurang baik di hadapan tuhan secara terus-menerus.
Depresi, di sisi lain, membuat pola pikir menjadi negatif terhadap diri sendiri dan masa depan. Emosi dapat terasa kosong atau sedih secara terus-menerus, dan perilaku menjadi pasif serta kehilangan dorongan.
Salah satu gejala utama depresi adalah hilangnya motivasi, termasuk terhadap hal-hal yang sebenarnya bernilai secara personal dan spiritual. Oleh karena itu, menurunnya semangat ibadah pada orang yang mengalami depresi merupakan gejala psikologis, bukan indikasi kemalasan atau penolakan terhadap suatu agama. Rasa bersalah yang sering menyertai kondisi ini dapat dijelaskan secara psikologis. Anxiety memicu rasa takut berlebihan, sementara depresi memicu rasa ketidaklayakan. Keduanya dapat membuat individu merasa gagal sebagai hamba, padahal secara mental mereka sedang dalam kondisi sakit.
Perspektif Islam, terutama pada pemikiran Abu Hamid Al-Ghazali, memberikan dimensi tambahan melalui konsep hati. Dalam tradisi filsafat Islam, dikenal tiga sumber pengetahuan, yaitu wahyu, akal, dan hati. Hati yang dimaksud bukanlah organ fisik, melainkan jiwa. Jiwa merupakan tempat tumbuhnya pengelaman emosional seperti senang, sedih, takut, harap, sekaligus ruang penerimaan atau penolakan terhadap kebenaran yang telah diolah oleh akal. Dengan demikian, ketika seseorang menerima atau menolak kebenaran, yang bekerja adalah jiwanya.
Dalam kerangka ini, anxiety dan depresi dapat dipahami sebagai gangguan jiwa, yang berarti gangguan pada hati. Al-Qur’an dalam surah Ar Ra’d ayat 28, menegaskan:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
