Dalam sejarah panjang manusia, karya tulis memiliki kontribusi besar dalam pembangunan peradaban. Sebuah karya tulis bisa dipahami sebagai semacam medium akumulasi pengetahuan (memory bank), yang dengannya manusia belajar dari kesalahan dan kegagalan para pendahulunya dalam membangun sebuah peradaban.
Selain itu, karya tulis juga acap kali memantik revolusi besar. Peradaban Mesopotamia (Sumeria)—yang pertama kali menciptakan aksara kuneiform, atau tulisan paku, pada sekitar 3200 SM—mengalami revolusi radikal di ranah hukum dengan lahirnya Kode Hammurabi. Masa keemasan (Golden Age) peradaban Islam pada abad ke-8 hingga ke-13 juga sangat dipengaruhi oleh banyak karya tulis, khususnya Al-Qanun fi al-Tibb (The Canon of Medicine) karya Ibnu Sina dan karya-karya terjemahan Yunani di Bayt al-Hikmah.

Hegemoni Eropa hari ini juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh karya-karya tulis seperti Principia Mathematica (Isaac Newton) dan Encyclopédie (Diderot & d’Alembert).
Revolusi ini mencapai kulminasinya ketika mesin cetak pertama kali ditemukan oleh Johannes Gutenberg. Sejak saat itu, sebuah karya tulis bisa dicetak secara massal dan pengetahuan tidak hanya bisa dinikmati oleh kaum elit, tetapi juga masyarakat umum.
Dua revolusi terbesar di abad modern, Revolusi Industri dan Sains, tidak bisa dilepaskan dari maraknya budaya baca-tulis di Eropa.
Sejalan dengan ini, Al-Ghazali pernah menuturkan, “Jika kamu bukan anak raja atau anak ulama, maka jadilah penulis.” Hal ini mengisyaratkan bahwa karya tulis adalah jalan untuk memberikan pengaruh bagi sebanyak mungkin orang.
Namun, seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang melahirkan dunia digital, minat baca-tulis masyarakat mengalami penurunan drastis. Konten audio visual yang melahirkan budaya baru, yaitu scrolling, mulai menggantikannya.
Sebagaimana dikutip dalam jurnal iScience, kecenderungan membaca di era digital mengalami penurunan sebesar 40%. Penurunan ini disebabkan maraknya konten audio visual di media sosial yang menawarkan kepuasan instan (instant gratification).
Minimnya minat baca masyarakat di era digital ini membuat banyak orang yang awalnya ingin menjadi penulis harus berpikir dua kali. Ditambah lagi, apresiasi lembaga pemerintah terhadap penulis acap kali tidak sebanding dengan dedikasi dan tebalnya buku yang ditulis. Di sisi lain, content creator jadi alternatif baru bagi mereka yang ingin menjadi manusia berdampak positif bagi banyak orang. Melalui konten edukatif, banyak orang terinspirasi dan teredukasi.
Sehingga pertanyaan yang muncul hari ini adalah: “Apakah sebuah karya tulis cetak masih memiliki andil yang signifikan dalam membangun sebuah peradaban?”
Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa hitam-putih. Pertama, budaya baca-tulis memiliki aspek utility yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa digantikan oleh konten audio visual. Setidaknya ada dua manfaat besar yang diperoleh ketika seseorang membaca: manfaat informatif yang memperluas wawasan, dan manfaat formatif yang membentuk cara pandang serta karakter pembaca.
Kedua, ketika seseorang melihat konten audio visual, otak cenderung menerimanya secara pasif. Sedangkan dalam proses membaca, otak dipaksa bekerja untuk membangun visualisasi secara mandiri. Oleh para pakar neurosains, proses inilah yang mengaktifkan jaringan saraf yang lebih luas, memperkuat daya imajinasi, dan kreativitas.
Ketiga, membaca sebuah karya tulis cetak membutuhkan proses yang lambat namun mendalam. Seseorang dipaksa untuk merenungi dan mengingat kembali halaman-halaman yang telah terlewati. Di sinilah otak dipaksa untuk aktif, bukan hanya menerima informasi secara masif begitu saja.
Keempat, membaca menciptakan sirkuit baru di otak melalui proses neuroplasticity. Aktivitas membaca menghubungkan tiga area utama: Visual Cortex (mengenali bentuk huruf), Auditory Cortex (mengasosiasikan huruf dengan bunyi/fonetik), dan Broca’s Area (memahami makna dan tata bahasa). Membaca adalah “olahraga otak”; semakin sering otak dipaksa aktif, maka semakin cerdas pula seseorang.
Kelima, aspek kedalaman retensi memori yang ditawarkan oleh karya tulis cetak memiliki dimensi spasial yang unik. Neurobiologi kognitif menemukan bahwa saat membaca buku fisik, otak melakukan pemetaan informasi berdasarkan letak teks pada halaman dan berat kertas yang berpindah dari tangan kanan ke tangan kiri. Pengalaman sensorik ini membangun “jangkar” memori yang lebih kuat di dalam hippocampus. Sebaliknya, aktivitas scrolling bersifat efemeril; informasi mengalir tanpa struktur spasial tetap, sehingga otak cenderung memperlakukannya sebagai data “sekali pakai.”
Pada akhirnya, budaya baca-tulis tidak akan bisa digantikan sepenuhnya oleh budaya scrolling. Namun, fenomena media sosial memang tidak bisa kita hindari. Pekerjaan rumah kita hari ini adalah bagaimana masyarakat, khususnya remaja, tidak larut dalam jebakan dopamin dari stimulasi instan dan kembali menumbuhkan minat baca teks cetak. Sosialisasi dan edukasi yang intens merupakan kunci untuk menjawab tantangan ini.
Apresiasi pemerintah terhadap penulis juga perlu dikoreksi. Banyak penulis beralih profesi karena menjadi penulis belum menjamin kesejahteraan ekonomi. Ironisnya, kreator konten yang terkadang menampilkan konten kurang berkualitas justru mendapatkan apresiasi finansial yang jauh lebih besar. Selain itu, akses terhadap buku orisinal masih sulit bagi sebagian masyarakat karena harganya yang relatif mahal, sementara pembajakan buku tetap menjadi masalah pelik.
Pada akhirnya, sebagaimana dikatakan Gita Wirjawan, peradaban yang maju adalah peradaban yang melek literasi. Semakin tinggi minat baca dalam sebuah bangsa, maka semakin maju pula peradaban tersebut.
