Cerita itu terinspirasi dari apa yang dialami teman sekolahnya, apa yang terjadi di lingkungan sekolahnya, dan sebagian pengalamannya sendiri. Cerita itu juga merupakan kritik terhadap kondisi sekolah yang akhir-akhir ini banyak dirundung perundungan.
Cerita itu pula yang dibawakan Nufus ketika diminta tampil di Panggung Seni Santri dalam rangka perayaan 6th jejaring duniasantri di Pesantren Tebuireng, Rabu, 20 Agustus 2025. Ia memainkan karakter-karakter dalam cerita dengan begitu kuat dan menyihir. Pergantian karakter bisa dijalani dengan mulus hanya dalam hitungan detik. Sebelia itu, Nufus mampu tampil dengan penuh pesona.

Sayangnya, selama berada di Tebuireng, saya tak berkesempatan mengobrol langsung dengannya. Sebagai gantinya, setelah kembali ke Jakarta, saya meminta tolong Mbak Rara bisa memfasilitasi percakapan telepon dengan Nufus. Alhamdulillah, Jumat (29/8/2025) ini saya bisa mengobrol dengan remaja pelahap buku apa saja ini.
“Saya deg-degan dan takut diminta tampil di acara duniasantri, karena akan ditonton para kiai dan Masyayikh Tebuireng,” ujar Nufus. Ia mantap tampil lepas ketika para seniornya membesarkan hatinya. “Alhamdulillah, akhirnya sukses juga,” imbuhnya.
Nufus mengaku senang dan bangga bisa tampil di panggung seni yang dihelat jejaring duniasantri tersebut. Momen itu menjadikannya kian bersemangat untuk terus mendalami dan bergiat di dunia sastra dan seni peran.
Saat ini, Nufus sudah menulis sekitar 20 puisi dan satu naskah monolog. Jika nanti berkesempatan bisa kuliah di kampus impiannya, Universitas Padjajaran (Unpad) atau Universitas Indonesia (UI), Nufus akan terus bergiat di kegiatan ekstra kampus di bidang sastra dan seni pertunjukan.

Syang sekali, karena terlambat saya tidak mengikuti pentas Nufus di acara tersebut. Tetapi dengan narasi ini saya bisa mengetahui bahwa ada santriwati yang memiliki talenta luar biasa. Selamat buat Nufus, semoga ke depan semakin sukses,,,