Dengan paparan singkat tersebut, saya ingin menyatakan bahwa begitu pelik, rumit, dan kompleks persoalan historeografi kita yang secara sederhana dapat dipilah menjadi dua. Pertama, bahwa tiga hal yang disebut di awal tulisan ini adalah problem besar yang bukan saja terjadi dalam keilmuan sejarah, tetapi juga dihadapi oleh ilmu-ilmu sosial-humaniora pada umumnya. Ketiga hal tersebut adalah standar, ukuran, norma, dan pegangan berwibawa (dalam tradisi sastra disebut kanon) bagi penulisan sejarah yang sengaja diciptakan atau direproduksi oleh pusat kekuatan ideologi dan kebudayaan yang direpresentasikan Barat, serta dirayakan sebagai “keagungan ilmu pengetahuan”, simbol kebenaran dengan klaim universalitasnya yang angkuh.
Kedua, bahwa kita, atau kebanyakan dari kita, telah hanyut ke dalam rengkuhan standar atau kanon tersebut tanpa merasa terengkuh adalah problem tersendiri yang tidak kalah seriusnya, barangkali lebih berat karena menyangkut diri kita, apalagi kita tidak terlatih bersikap kritis terhadap diri sendiri. Gambaran tentang kita, atau sebagian dari kita, hari ini persis seperti yang dilukiskan Amartya Sen saat ia mengulas kritis tentang hegemoni: “Sebagian besar orang adalah orang lain. Pikiran mereka adalah pendapat orang lain, hidup mereka bagai peniruan, hasrat mereka adalah kutipan belaka.” Dengan pernyataan itu, Sen hendak menegaskan bahwa hegemoni telah berjalan melalui berbagai lini, termasuk melalui pembentukan kategori, identitas, dan sekat-sekat lain yang seolah menarik seperti kebenaran, tetapi sebenarnya akan merugikan kita sendiri, orang-orang yang terhegemoni.

Harold Bloom menyatakan bahwa sebuah narasi atau karya menjadi kanon karena kemampuannya membuat kita merasa asing di tengah lingkungan sendiri, atau karena kemampuannya membuat kita merasa betah dan akrab di tengah dunia yang asing. Kemampuan kanon membuat asing di tengah lingkungannya, menurut kritikus sastra berpengaruh itu, menunjuk pada kekuatannya untuk memprovokasi, untuk menggoncang hal-hal yang sudah kita terima mapan; ia seolah memberi alternatif-alternatif untuk menyingkap hal-hal yang selama ini terselubung.
Sementara kemampuan kanon membuat kita lebih betah dan akrab meskipun berada di wilayah asing, menunjuk pada kekuatannya untuk menggarisbawahi persamaan universal kemanusiaan, serta kemampuan-nya menemukan hal-hal yang dibayangkan kekal dan tak berubah di tengah kehidupan manusia.
Kedua kemampuan kanon itu memang menakjubkan, karena di dalam rengkuhannya kita (merasa) menjadi “hebat”, tetapi kanon, justeru dengan kemampuan-kemampuannya itu, menjadi tenaga ajaib yang mampu menyulap kita bukanlah diri kita. Dan dalam kondisi seperti itulah sebenarnya kita telah direpresi, direngkuh, dicuci, dan tak berdaya.
