Apakah benar demikian, bahwa seluruh, atau mayoritas, umat Islam Indonesia bersetuju dengan yang tampak di permukaan itu?
Saat teringat kenangan masa kecil seperti di awal tulisan ini, saya teringat istilah yang diperkenalkan Ricard Nixon, Presiden ke-37 Amerika Serikat, yaitu silent majority. Istilah ini, yang berarti “mayoritas yang diam”, merujuk pada sebagian warga yang lebih memilih diam, tidak banyak bersuara —tidak banyak bacot, menurut istilah milenial— untuk menghindari ketegangan dan benturan yang lebih luas dengan kelompok lain. Namun, ketika silent majority pada akhirnya bersuara, maka semuanya bisa menjadi berbeda.

Itulah yang terbayang di bawah permukaan, ketika yang tampak di permukaan dan mendominasi wacana di Indonesia adalah gerakan populisme agama. Siapa silent majority itu? Masyarakat yang tinggal di desa saya itu merupakan miniatur atau contoh kecil dari silent majority ini. Kiai, santri, abangan, dan kelompok-kelompok yang demikian beragam itu adalah bagian dari silent majority ini. Masyarakat yang lebih mencintai keindonesiaan itulah yang disebut silent majority itu.
Mereka jarang bersuara, dan lebih banyak diam. Tapi, hari-hari ini saya melihat silent majority ini mulai bersikap untuk melawan arus gerakan populisme agama dari kelompok vocal minority, yang sedikit tapi berisik, yang telah berkembang menjadi dangerous minority, kelompok kecil yang akan membahayakan keindonesiaan.
Di bawah permukaan kini telah muncul arus balik keindonesiaan, yang mulai memukul balik radikalisme agama, gerakan populisme agama. Selalu begitu jika keindonesiaan mulai terancam.

What must we choose, silent mojority, vocal minority, or dengerous minority?