Arus Balik Keindonesiaan

Sampai kelak saya berkelana ke mena-mana, tak ada yang salah dengan itu semua. Saya, yang saban malam ngaji dan kemudian tidur di musala, tak pernah melihat telunjuk guru-guru saya menuding ke arah lain: “Mereka kafir, mereka ahli neraka!” Karena itu, bersama kawan-kawan yang lain, saya leluasa berkunjung ke rumah tetangga-tetangga yang sedang merayakan Galungan. Saat Idul Fitri, giliran mereka berkunjung, dan kami saling bermaafan. Itulah hidup bebrayan.

Sampai kelak kemudian, pada suatu titik, saya menjadi terheran-heran: kenapa berbeda identitas, berbeda agama, berbeda kepercayaan, berbeda keyakinan, lantas bisa menjadi suatu masalah, seperti yang kita lihat belakangan ini?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Yang tampak ke permukaan adalah wajah Islam yang berbeda dari yang saya pelajari sejak dini, yang belakangan, lagi-lagi jika diteropong dengan teori sosial, dikenal sebagai radikalisme. Radikalisme agama. Yang kemudian menjadi gerakan populisme agama.

Seperti di sejumlah negara, sejak runtuhnya Orde Baru, gerakan populisme agama telah menemukan momentumnya di Indonesia. Ia membonceng demokrasi, dan demokrasi kemudian memang memberinya jalan lapang. Wacana mengubah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan sistem khilafah, atau menjadikan NKRI bersyariah, adalah puncak gunung es dari gerakan populisme agama.

Sebagai gerakan populis, populisme agama memang memabukkan. Membuai. Yang tampak di permukaan kemudian adalah semua orang terbuai. Mabuk agama. Satu-satunya jalan untuk memperbaiki Indonesia adalah dengan mengubahnya menjadi negara agama, negara Islam, dengan sistem khilafah, dengan NKRI bersyariah.

One Reply to “Arus Balik Keindonesiaan”

Tinggalkan Balasan