Oleh sebab itu, tidak heran jika pada sambutan buku tersebut, Agus Sunyoto menyebutkan bahwa Wali Songo yang merupakan sekumpulan tokoh penyebar Islam pada abad ke-15 M hingga paro kedua abad ke-16 M adalah tonggak terpenting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa dan Nusantara. Mengapa demikian?
Dengan demikian, teori yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara dibawa oleh saudagar muslim terbantahkan dan terpatahkan pada dekade tersebut. Terbukti, kedatangan saudagar-saudagar muslim sejak abad ke-6 M tidak serta merta diikuti oleh penduduk pribumi bahkan sampai kemunculan para penyebar Islam di Jawa datang menyebarkan Islam yang dibawa.

Oleh karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa penyebaaran Islam saat itu karena jasa saudagar atau pedagang Gujarat adalah tidak benar. Lebih tepatnya karena sentuhan dakwah para Kanjeng Sunan dalam meramu budaya lokal dengan Islam sehingga Islam dan budaya lokal mampu beriringan dengan apik.
Misalnya, seperti Kanjeng Sunan Bonang. Dalam berdakwah, Raden Makhdum Ibrahim ini dikenal sering menggunakan wahana kesenian dan kebudayaan untuk menarik simpati masyarakat Jawa. Salah satunya dengan perangkat gamelan Jawa yang disebut bonang. Bonang sendiri adalah alat musik dari bahan kuningan berbentuk bulat dengan tonjolan di bagian tengah mirip gong ukuran kecil. Pada masa lampau, alat musik ini selain digunakan untuk gamelan pengiring pertunjukan wayang, juga digunakan aparat desa mengumpulkan warga dalam rangka penyampaian wara-wara dari pemerintah kepada penduduk. (Lihat hal 238-239).
Masih menurut penulis buku, adalah tindakan ahistoris kalau tidak boleh dikatakan naif ketika sekumpulan intelektual membincangkan tentang Islam Indonesia tanpa menyertakan Wali Songo di dalamnya dengan pertimbangan berbeda paham atau aliran. Fakta ahistoris yang naif itulah yang akan kita temukan ketika membaca Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve yang tidak satu kalimat pun menyebut Wali Songo, tokoh penyebar Islam pada zaman Wali Songo, khazanah kekayaan budaya Islam zaman Wali Songo seperti karya sastra, seni musik, seni rupa, seni pertunjukan, seni suaram desain, arsitektur, filsafat, tasawuf, hukum, tata negara, etika, ilmu falak, sistem kalender, dan ilmu pengobatan yang lahir dan berkembang pada masa Wali Songo dan sesudahnya.
