Puncaknya, terbit sebuah buku karya Zainal Abidin Bin Syamsudhuha cetakan Pustaka Imam Bonjol berjudul Fakta Baru Wali Songo, yang memuat asumsi-asumsi sepihak dan tidak objektif dalam menilai Wali Songo. Dalam buku tersebut diurai bahwa Wali Songo tidak ada dengan berbagai landasan maupun argumen yang kurang bisa dipercaya. Dalam buku tersebut dijelaskan di salah satu bab tentang mengislamkan Jawa, terbentuknya komunitas muslim, agama asli Jawa, budaya dan adat Jawa, dan pada bagian akhir penulis mencoba membantah bahwa Wali Songo dengan subbab menarik: fakta baru Wali Songo!
Alhasil, kedua buku tersebut dapat dibantah dengan hadirnya buku afirmatif Wali Songo yang tidak kalah melegenda. Dalam Historiografi Jawa disebutkan bahwa pada awal dasawarsa 1440-an telah datang kakak beradik asal Champa, yang tua bernama Ali Murtadho dan yang muda bernama Ali Rahmatullah, bersama sepupu mereka yang bernama Abu Hurairah ke Jawa. Melalui bibinya, Darawati, yang dipersunting Sri Prabu Kertawijaya Raja Majapahit (1447-1451 M), Ali Rahmatullah diangkat menjadi imam di Surabaya dan kakaknya diangkat menjadi Raja Pandhita di Gresik. Berpangkal dari keluarga asal Champa inilah, penyebaran agama Islam berkembang di wilayah Majapahit, terutama setelah putra-putra, menantu-menantu, kerabat, dan murid kedua orang tokoh tersebut berdakwah secara sitematis melalui jaringan dakwah yang disebut Wali Songo. (lihat Pengantar hlm VI).

Di sisi lain, Agus Sunyoto mengutip dalam Historiograf Jawa, Cirebon, dan Banten dengan menggambarkan tokoh-tokoh Wali Songo dengan berbagai kisah keramat. Masing-masing tokoh dikisahkan memiliki kemampuan suprahuman, berupa karomah menakjubkan yang dengan cepat menarik perhatian masyarakat untuk diislamkan. Sementara itu, fakta sejarah menunjukkan bahwa setelah dakwah Islam dijalankan Wali Songo, Islam berkembang sangat pesat di kalangan pribumi. Tome Pires, ahli pengobatan, menjadi duta Raja Portugal di Cina yang mengunjungi Jawa pada tahun 1515 M dalam buku Suma Oriental mencatat bahwa wilayah di sepanjang pantai utara Jawa dipimpin oleh adipati-adipati muslim, dan fakta yang sama disaksikan oleh A Pigafetta yang berkunjung ke Jawa pada tahun 1522 M.
Oleh karena itu, di akhir tulisan ini, saya mengajak para pembaca untuk bijak dalam menelaah segala aspek historis yang berabad-abad lamanya, khususnya ketika membicarakan penyebar dan penyebaran Islam di Pulau jawa. Maka, tidak salah bila Marcus Garvey, jurnalis kebangsaan Jamaika, mengatakan orang yang tanpa pengetahuan sejarah masa lalu, asal usul, dan budaya mereka seperti pohon tanpa akar.
Wallahu A’lam.
