Oman Faturrahman, kolega guru besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menuturkan, Azra bisa menulis di mana saja. Bahkan, sekalipun di mobil maupun di pesawat, ia dapat melakukannya. Menulis bagi Azra memang suatu keharusan. Oleh karena itu, ia terbiasa menulis kapan pun, di mana pun, dan tidak perlu menunggu siap untuk menulis dan tergantung mood.
Dan terakhir yang membuat saya kagum dengan beliau, ia selalu memberikan gambaran masa depan cerah positif kepada Muslim di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Yang terbaru, dalam terbitan Kompas (19/9/22), Azra menulis “Kebangkitan Peradaban, Memperkuat Optimisme Muslim Asia Tenggara”.

Tulisan yang disajikan dengan kritis dan argumentatif menjadi obat refleksi –terutama bagi saya– bahwa sedigdaya apapun negara Amerika dan Eropa, ternyata sedang mengalami kemunduran peradaban. Justru, perkembangan peradaban sekarang telah bergeser pada Asia, dan kitalah –Indonesia dan Malaysia – yang sedang dalam tahap membangkitkan peradaban. Kita-kita semua yang sedang dalam usia produktif semoga bisa menjadi bagian mewujudkan dari kembalinya peradaban Indigenous Muslim Asia Tenggara.
Azyumardi azra telah mewariskan mozaik pemikiran yang mencerahkan. Banyak dari karya tulisnya telah dilahirkan dari olah pikir dan daya kritisnya. Semoga kita semua dapat meneladan dan meneruskan sikap-sikap beliau, teruyama di bidang kepenulisan.
Selamat jalan Prof Dr Azyumardi Azra, M. Phil., M.A., CBE., namanu dan jasa-jasamu akan abadi dalam karya-karyamu. Lahu al-Fatihah.
