Bagaimana Islam Memandang Pengemis?

Di dalam ayat lainnya disebutkan bahwa orang yang meminta-minta tidak boleh disakiti baik secara fisik atau nonfisik. “Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya).” (QS. Ad-Dhuha: 10). Tentu saja hal tersebut terkait dengan pengemis dengan kondisi sebenarnya. Bukan pengemis saat ini yang sudah dijadikan sebagai profesi dan dikoordinasi atau diorganisasi oleh orang yang hakikatnya tidak miskin. Maka sudah terjadi pergeseran hukum, sehingga diperlukan pendekatan humanis atau pendekatan khusus bagi orang-orang menjadikan pengemis sebagai profesi.

Ada saatnya menjadi pengemis adalah sebuah pilihan. Sebab, setiap manusia diberi kemampuan untuk terhindar dari menjadi peminat-minta. Maka menjadikan pengemis menjadi profesi adalah suatu kesalahan. Karena hakikat menjadi pengemis hanya bagi mereka yang benar-benar tidak mampu untuk bekerja dan tidak memiliki harta benda untuk biaya kehidupan. Di samping itu, pengemis yang sebenarnya adalah mereka yang tidak mampu untuk bekerja dan menghasilkan harta benda untuk biaya kehidupan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pengemis Menurut Islam

Rasulullah bersabda, “Bahwasanya salah seorang di antara kalian mengambil talinya, lalu dia datang dengan membawa seikat kayu bakar, lalu dia menjualnya sehingga Allah memberinya kecukupan dengan itu adalah lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka mau memberinya maupun tidak.” (HR Bukhari).

Hadis ini menjelaskan bahwa seorang pekerja dengan cara yang paling sederhana sekalipun (pemulung, misalnya) jauh lebih bermartabat dan mulia daripada menjadi pengemis.

Di dalam Islam, pengemis diperlakukan sebagai manusia umumnya. Yaitu, bahwa dengan kondisi diri mereka sendiri, baik secara fisik atau lainnya, pengemis harus dihormati secara humanis. Sebuah nilai kemanusiaan bahwa setiap orang punya hak untuk hidup bahagia. Namun kondisi diri yang tidak memungkinkan untuk lebih sempurna, maka mereka terpaksa melakukan tindakan meminta-minta.

Ada hadis yang sangat populer di antara kita adalah, “Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (menerima).” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjelaskan bahwa sebaik-baik kita adalah yang bekerja untuk memenuhi kehidupan. Akan tetapi pengemis juga harus dihormati sebagai nilai kemanusiaan bahwa kita harus saling menghargai apa pun kondisi yang mengiringi kita.

2 Replies to “Bagaimana Islam Memandang Pengemis?”

Tinggalkan Balasan