Syekh Abdullah bin Alwi al Haddad pun kembali memberikan penegasan soal bagaimana respons kita terhadap tertanamnya benih hidayah dan rahmat yang kita rasakan. Hal ini dituangkan pada kitabnya,
ومن اكرمه الله بهذاالباعث الشريف فليعرف قدره المنيف, وليعلم انه من اعظم نعم الله تعالى عليه التى لايقدر قدرها ولا يبلغ شكرها فليبالغ فى شكرالله تعالى على مامنحه واولاه، وخصه به من بين اشكاله واقرانه فكم من مسلم بلغ عمره ثمانين سنة واكثرلم يجد هذا الباعث ولم يطرقه يوما من الدهر

Artinya: “Barangsiapa yang dimuliakan Allah SWT dengan (ditanamkannya) dorongan untuk berada di jalannya yang lurus, hendaknya ia memahaminya sebagai karunia terbesar dari Allah SWT yang (nilainya) sangat tinggi kepadanya. Sehingga karunia tersebut harus disyukuri dengan benar-benar, karena banyak dari kaum muslimin yg telah mencapai usia delapan puluh tahun lebih, namun ia belum pernah mendapat jalan petunjuk menuju Allah SWT.”
Jadi, dapat kita petik informasi bahwa kedatangan hidayah Allah adalah merupakan kehendak yang preogratif dari Allah sendiri. Namun dapat dikatakan bahwa seorang hamba yang berkeinginan untuk menjemput hidayah, sekaligus taqarrub kepada Allah, maka Allah SWT akan menanamkan benih hidayah tersebut.
Ikhtiar ini harus senantiasa dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Mengingat bahwa hidayah Allah bisa datang kapan pun dan di mana pun, sekaligus kepada siapa pun seseorang yang dikehendaki-Nya, niscaya jalan menuju kedekatan kepada Ilahi Robbi akan semakin jelas dan dimudahkan untuk melakukannya.
Wallahu A’lam bi as Showaab.
