Selanjutnya dibahas masalah Aqoid Seket (Akidah Lima Puluh) disertai dengan ulama Indonesia yang menyebutkan Aqoid Lima Puluh dalam kitab-kitabnya. Bab juga ini membahas perihal mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak, cara memahami ayat-ayat mutasyabihat, karamah para wali, selamatnya kedua orang tua Nabi Muhammad SAW, cinta kepada semua sahabat nabi tanpa membahas perselisihan di antara mereka, dan menghormati ahlul bait rasulullah dan syafaat.
Kemudian, pada bab kedua, kitab ini membahas tentang masalah hukum-hukum syariat amaliyah (fikih) yang sering kali diperdebatkan oleh orang Indonesia. Bab ini juga menjadi bab inti dalam kitab ini sekaligus dengan subbab terbanyak.

Di antara pembahasan dalam kitab ini meliputi taqlid (ikut mazhab) dalam masalah fikih kepada salah satu imam dari empat mazhab. Selanjutnya dibahas masalah salat tarawih 20 rekaat, membaca doa qunut pada salat subuh, pembahasan mengenai bidah dan pembagiannya, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, berdiri ketika pembacaan maulid (mahalul qiyam), hukum membaca sayyidina, hukum bertawasul, istighotsah dan mengharap syafaat, hukum bertabarruk (mengharap berkah), hukum ziarah kubur, pendapat ulama mengenai ziarah ke makam Rasulullah, membaca manaqib orang-orang salih, menghadiahkan pahala untuk orang meninggal, dan majelis tahlil.
Selain itu, bab kedua ini juga mengulas ulama Indonesia yang memiliki kitab khusus mengenai pembahasan yang relevan di bab ini. Misalnya, kitab khusus yang membahas hukum taqlid, ulama yang menyusun kitab fikih Mazhab Syafii, ulama yang menulis maulid nabi dalam bentuk kitab, ulama yang menulis manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, dan ulama yang menulis bacaan tahlil.
Terakhir, di bab ketiga, dibahas masalah tarekat dan para ahli tasawuf yang memuat dasar-dasar tarekat dan tasawuf. Pada bab ini juga disebutkan ulama Indonesia yang bertarekat dan bertasawuf beserta kitabnya yang membahas tasawuf dan tahun wafatnya.
Di pengujung kitab ini, di bagian penutup, dimuat kasidah-kasidah cinta tanah air yang termaktub di dalam syair. Seperti doa KH Raden Asnawi Kudus untuk keamanan Indonesia yang termuat dalam karyanya Sholawat Asnawiyah, kasidah Habib Jufri Al-Idrus Pau tentang pujian dan doa untuk kemakmuran Indonesia yang kala itu baru merdeka, kasidah Ya Lal Wathon karya KH A Wahab Hasbullah yang sering dilantunkan masyarakat, dan syair Firdaus Al-Istiwa karya Syaikh Abdullah bin Nuh Cianjur berisi pujian-pujian terhadap Indonesia. Dalam bab ini pula pembaca kitab diajak menyelami warisan keilmuan para ulama Indonesia dalam bentuk “referensi penting” yang disertai dengan penulis kitab, tahun wafat, dan penerbit kitab tersebut.
